Gangguan Selat Hormuz Picu Risiko Pangan Global, Harga Naik 13 April 2026

Sedang Trending 5 hari yang lalu

Gangguan di Selat Hormuz pada Sabtu (13/4/2026) tidak hanya mengganggu pasar energi global, tetapi juga memicu risiko terhadap sistem pangan dunia. Jalur pelayaran yang vital bagi perdagangan minyak, gas, dan pupuk ini mengalami pembatasan, bahkan penutupan. Hal tersebut menyebabkan dampak signifikan pada sektor pertanian, yang berpotensi dirasakan langsung oleh konsumen melalui kenaikan harga bahan pangan.

Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global, merupakan jalur penting untuk pengangkutan minyak, gas, dan pupuk. Sekitar sepertiga perdagangan pupuk dunia melewati jalur ini, termasuk urea dan amonia yang merupakan komponen utama nutrisi tanaman. Ketergantungan global pada jalur ini membuat setiap gangguan memiliki efek langsung terhadap ketersediaan input pertanian di berbagai negara.

Menurut data dari Kpler dan CRU, krisis yang terjadi telah menyebabkan kontraksi sekitar 33 persen dalam rantai pasok pupuk global. Gangguan juga memengaruhi 38 persen pasokan pupuk berbasis nitrat dan 20 persen pupuk berbasis fosfat di dunia. Penurunan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz menjadi pemicu utama terganggunya distribusi pupuk. Akibatnya, pasokan pupuk yang biasanya tersedia tepat waktu untuk musim tanam menjadi tertunda.

Keterlambatan tersebut dapat berdampak langsung pada produktivitas pertanian modern. Terlebih lagi, harga energi yang melambung akibat konflik memperparah situasi, meningkatkan biaya produksi pupuk. Gangguan pasokan pupuk terjadi menjelang musim tanam di belahan bumi utara. Kondisi ini memaksa petani mengambil keputusan sulit, termasuk mengurangi penggunaan pupuk atau mengubah jenis tanaman yang ditanam.

Kenaikan harga pupuk juga memperburuk tekanan. Penurunan produksi di negara-negara produsen utama berpotensi menciptakan efek domino pada pasokan pangan dunia, terutama untuk komoditas seperti jagung. Keterbatasan pupuk berimplikasi langsung terhadap produktivitas pertanian. Ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga pangan.

Sejumlah negara mulai mengambil langkah untuk meredam dampak krisis. China, misalnya, mempercepat pelepasan cadangan pupuk nasional untuk menjaga stabilitas pasokan domestik. Di sisi lain, upaya diversifikasi jalur distribusi dan sumber pasokan juga mulai dilakukan. Krisis di Selat Hormuz mempertegas keterkaitan erat antara geopolitik, energi, dan pangan. Pada akhirnya, stabilitas produksi pangan global sangat bergantung pada keberlanjutan pasokan pupuk.