PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mencatatkan perbaikan performa finansial dengan pertumbuhan pendapatan dan penyusutan rugi bersih pada kuartal I 2026. Laporan keuangan per 31 Maret 2026 menunjukkan maskapai pelat merah ini mulai menekan kerugian meski masih menghadapi tantangan liabilitas yang tinggi.
Berdasarkan data yang dilansir dari Money melalui laman Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (23/4/2026), perusahaan membukukan pendapatan usaha sebesar 762,35 juta dollar AS atau setara Rp 13,14 triliun. Realisasi ini menunjukkan kenaikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 723,56 juta dollar AS.
Peningkatan pemasukan tersebut utamanya didorong oleh lini penerbangan berjadwal yang menyumbang 648,10 juta dollar AS. Sebaliknya, sektor penerbangan tidak berjadwal mengalami penurunan menjadi 24,98 juta dollar AS, sementara pendapatan lain-lain melonjak ke angka 89,27 juta dollar AS.
Efisiensi pada beban operasional membantu Garuda menekan rugi periode berjalan hingga mencapai 41,62 juta dollar AS atau sekitar Rp 717,53 miliar. Angka kerugian tersebut menyusut signifikan jika dibandingkan dengan rugi kuartal I 2025 yang mencapai 75,93 juta dollar AS.
Penurunan pengeluaran terlihat pada total beban usaha yang turun menjadi 713,22 juta dollar AS dari sebelumnya 718,36 juta dollar AS. Komponen beban operasional penerbangan berhasil ditekan menjadi 350,24 juta dollar AS, walaupun biaya pemeliharaan dan perbaikan pesawat mengalami kenaikan tipis menjadi 159,14 juta dollar AS.
Dari sisi pembiayaan, beban keuangan Garuda Indonesia tercatat masih cukup berat di angka 104 juta dollar AS pada tiga bulan pertama tahun ini. Angka ini tetap menjadi penekan utama profitabilitas meskipun sudah menurun dari posisi tahun sebelumnya yang sebesar 124,57 juta dollar AS.
Neraca perusahaan menunjukkan total liabilitas meningkat menjadi 74,4 miliar dollar AS per akhir Maret 2026, dengan dominasi kewajiban jangka panjang senilai 5,90 miliar dollar AS. Pos liabilitas ini mencakup utang obligasi sebesar 684,61 juta dollar AS serta pinjaman jangka panjang senilai 630,06 juta dollar AS.
Penurunan likuiditas juga tercatat dengan berkurangnya saldo kas dan setara kas menjadi 857,50 juta dollar AS dari posisi akhir 2025 yang sebesar 943,40 juta dollar AS. Di sisi lain, ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat negatif 39,63 juta dollar AS pada penutupan kuartal pertama ini.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·