Enam orang dilaporkan mengalami luka-luka setelah gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang wilayah perairan Pasifik di lepas pantai Prefektur Iwate, Jepang utara, pada Senin (20/4/2026). Guncangan besar tersebut sempat memicu gelombang tsunami setinggi 80 sentimeter di pelabuhan Kuji sebelum peringatan dicabut beberapa jam kemudian.
Data dari Badan Manajemen Kebakaran dan Bencana (FDMA) yang dilansir dari Detikcom menunjukkan bahwa hingga Selasa (21/4/2026) pukul 08.00 waktu setempat, dua dari enam korban luka tersebut berada dalam kondisi serius. Meskipun guncangan terasa kuat hingga ke gedung-gedung di Tokyo, sejauh ini tidak ditemukan adanya kerusakan infrastruktur yang masif.
Badan Meteorologi Jepang (JMA) memberikan peringatan khusus mengenai potensi aktivitas seismik lanjutan di wilayah tersebut. Pihak otoritas menekankan bahwa risiko terjadinya gempa dengan kekuatan yang jauh lebih besar kini berada pada level yang lebih tinggi dari biasanya.
"kemungkinan terjadinya gempa bumi besar baru relatif lebih tinggi daripada pada masa normal" kata JMA.
Lembaga meteorologi tersebut juga menyoroti risiko munculnya gempa super besar dengan kekuatan Magnitudo 8,0 atau lebih. Sebagai langkah antisipasi, pemerintah daerah setempat telah memberikan instruksi kepada ratusan ribu warga untuk segera mencari lokasi yang aman.
Tidak ada laporan kebakaran atau kerusakan pada fasilitas penting, imbuh FDMA.
Pernyataan dari FDMA tersebut memastikan bahwa sistem utilitas utama tetap berfungsi meskipun evakuasi tidak wajib dilakukan oleh penduduk. Sekitar 182.000 warga di zona terdampak tetap diminta waspada terhadap perubahan situasi seismik yang bisa terjadi sewaktu-waktu di sepanjang Cincin Api Pasifik.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·