Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyoroti dampak perang AS-Israel dengan Iran terhadap industri otomotif.
Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara mengatakan perang di Timur Tengah berpotensi mengganggu rantai pasok global, termasuk distribusi bahan baku industri otomotif hingga biaya logistik.
“Dengan situasi yang sudah cukup volatile saat ini, harga bahan baku naik karena adanya perang. Saat ini memang itu ditengarai sebagai potensi masalah. Kemudian logistiknya juga akan lebih lama dan sebagainya,” kata Kukuh dalam diskusi Forum Wartawan Industri mengenai Lonjakan Harga Minyak Dunia, Momentum Menggenjot Adopsi EV di Kantor Kemenperin, Jakarta, Rabu (22/4).
Dia juga menyoroti tertekannya nilai tukar rupiah akibat gejolak geopolitik. Meski demikian, Kukuh menilai kondisi seperti ini bukan hal baru bagi industri otomotif nasional. Ia mencontohkan krisis 1998 hingga pandemi COVID-19 pada 2020 yang sempat menekan industri, namun pada akhirnya mampu dilalui dan pulih.
Ia berharap industri otomotif Indonesia tetap mampu bertahan di tengah tekanan geopolitik saat ini. Terlebih, berbagai upaya efisiensi seperti pengembangan teknologi kendaraan hemat energi hingga pemanfaatan bahan bakar alternatif seperti B50 dinilai bisa menjadi salah satu strategi untuk meredam dampak kenaikan biaya.
“Kita sedang berupaya untuk menjadi B50. Ini adalah target yang paling dekat dan mudah-mudahan ini juga menjadi alternatif tersendiri, karena mungkin B50 ini yang pertama kali di dunia, dengan hasil yang bagus, ini menjadi salah satu trademark tersendiri buat Indonesia,” tutupnya.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·