Gereja Katolik Rayakan Minggu Paskah IV dan Hari Minggu Panggilan

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Umat Katolik di seluruh dunia merayakan Misa Hari Minggu Paskah IV yang bertepatan dengan Hari Minggu Panggilan pada Minggu, 26 April 2026. Ibadah mingguan ini memfokuskan renungan pada sosok Yesus Kristus sebagai Gembala yang Baik yang menuntun umat-Nya dengan kasih.

Dalam liturgi kali ini, Gereja menggunakan warna putih dan membacakan tiga bacaan utama dari Alkitab sebagai bahan permenungan iman. Dilansir dari JawaPos.com, bacaan tersebut terdiri dari Kisah Para Rasul, Surat Pertama Petrus, dan Injil Yohanes yang menekankan pentingnya pertobatan serta pengenalan terhadap suara Tuhan.

Rasul Petrus dalam khotbahnya di Yerusalem memberikan penegasan keras kepada kaum Israel mengenai sosok Yesus yang telah dibangkitkan Allah. Dampak dari kesaksian tersebut membuat hati para pendengar terharu dan memutuskan untuk memberikan diri mereka dibaptis demi pengampunan dosa.

"Seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus." ujar Petrus, Rasul.

Setelah mendengar pernyataan tersebut, orang-orang bertanya mengenai langkah selanjutnya yang harus mereka ambil. Petrus kemudian memberikan instruksi mengenai pertobatan dan penerimaan sakramen baptis bagi mereka dan keturunan mereka.

"Bertobatlah, dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu; maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. Sebab bagi kamulah janji itu, bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita." kata Petrus, Rasul.

Petrus juga memberikan nasihat tambahan agar umat segera menjauhkan diri dari pengaruh buruk zaman tersebut. Catatan sejarah mencatat ada sekitar tiga ribu orang yang bertambah menjadi pengikut Kristus pada hari itu.

"Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini!" tegas Petrus, Rasul.

Beralih ke bacaan kedua, Petrus memberikan penguatan melalui suratnya mengenai makna penderitaan saat melakukan kebajikan. Ia merujuk pada keteladanan Kristus yang tidak membalas kejahatan dengan kejahatan saat memikul dosa manusia di kayu salib.

"Saudara-saudara terkasih, Jika kamu berbuat baik dan karena itu harus menderita, itu adalah kasih karunia pada Allah. Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu, dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya." tulis Petrus, Rasul.

Dalam narasi suratnya, Petrus menjelaskan bahwa Kristus tidak melakukan penipuan dan selalu menyerahkan segala penderitaan kepada Allah sebagai hakim yang adil. Kesembuhan bagi umat manusia diyakini datang melalui luka-luka yang diderita Yesus.

"Ia tidak berbuat dosa, dan tipu muslihat pun tidak ada dalam mulut-Nya. Ketika dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki. Ketika menderita, Ia tidak mengancam, tetapi menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil. Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah disembuhkan. Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu." papar Petrus, Rasul.

Pada puncak liturgi, pembacaan Injil Yohanes menghadirkan perumpamaan Yesus mengenai perbedaan antara gembala sejati dan pencuri. Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai pintu yang memberikan keselamatan dan kehidupan berlimpah bagi setiap orang yang masuk melalui-Nya.

"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya, siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok. Tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba. Untuk dia penjaga membuka pintu, dan domba-domba mendengarkan suaranya; ia memanggil dombanya masing-masing menurut namanya, dan menuntunnya ke luar. Jika semua domba telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka, dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal." ucap Yesus, Kristus.

Melihat para pendengar-Nya belum memahami maksud perumpamaan tersebut, Yesus memberikan penjelasan lebih mendalam. Ia menegaskan identitas-Nya sebagai satu-satunya jalan menuju padang rumput yang memberikan kelimpahan hidup, berbeda dengan pencuri yang datang untuk membinasakan.

"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu kepada domba-domba itu. Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat; ia akan masuk dan keluar, dan menemukan padang rumput. Pencuri datang hanya untuk mencuri, membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan." tutur Yesus, Kristus.

Bruder Pio Hayon, SVD melalui renungan di Flores.tribunnews.com menekankan bahwa perayaan ini mengarahkan umat untuk mengenali suara Tuhan di tengah kebisingan dunia. Refleksi harian ini mengajak umat mengevaluasi apakah keputusan mereka dibentuk oleh bimbingan iman atau tekanan rasa takut.