Jakarta (ANTARA) - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memastikan kebutuhan valuta asing (valas) terpenuhi saat permintaan meningkat akibat faktor musiman pada periode April hingga Mei 2026.
Perry mengatakan lonjakan permintaan valas pada periode tersebut dipicu kebutuhan masyarakat untuk ibadah umrah dan haji, serta korporasi yang melakukan repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri.
"Kebetulan secara musiman, April dan Mei itu permintaan valasnya tinggi," kata Perry dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Kamis.
Di tengah pelemahan nilai tukar yang masih berlangsung, Perry menegaskan bahwa bank sentral tetap all out menjaga stabilitas rupiah dengan terus berkoordinasi dengan pemerintah.
"Kenapa ada pelemahan rupiah. Seluruh mata uang dunia itu melemah. Kita jaga tingkat pelemahannya itu tidak terlalu tinggi dengan all out," ujar dia.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar didorong faktor global antara lain tensi geopolitik di Timur Tengah yang masih tinggi serta harga minyak dunia yang meningkat.
Di samping itu, suku bunga AS yang masih tinggi mendorong investor asing menarik dananya dari negara-negara emerging market, sehingga memperkuat nilai tukar dolar AS.
Perry menekankan rupiah saat ini undervalued dibandingkan dengan kondisi fundamental ekonomi.
Di sisi lain, ia memastikan kondisi perekonomian domestik tetap solid dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen (yoy) pada triwulan I 2026 dengan neraca perdagangan yang tetap mencatatkan surplus dan cadangan devisa yang tetap tinggi.
Neraca perdagangan pada Januari-Maret 2026 mencatat surplus sebesar 5,5 miliar dolar AS, didukung surplus perdagangan nonmigas di tengah defisit neraca perdagangan migas.
Kemudian, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2026 sebesar 148,2 miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan enam bulan impor serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Pada awal triwulan II hingga 30 April 2026, aliran modal asing mencatat net inflows sebesar 3,3 miliar dolar AS, terutama pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) yang didorong peningkatan imbal hasil pada kedua instrumen.
Sebelumnya, selama triwulan I 2026, investasi portofolio asing mengalami net outflows sebesar 1,7 miliar dolar AS, dipengaruhi oleh aliran keluar modal asing akibat ketidakpastian pasar keuangan global yang tinggi dipicu konflik Timur Tengah.
Baca juga: BI catat "inflow" asing capai 3,3 miliar dolar AS hingga April
Baca juga: Rupiah menguat dipengaruhi peluang kesepakatan damai AS-Iran tercapai
Baca juga: Bertemu Prabowo, Gubernur BI beberkan tujuh strategi perkuat rupiah
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·