Gunung Semeru di Jawa Timur memuntahkan awan panas guguran sejauh 4,5 kilometer saat terjadi erupsi pada Jumat, 24 April 2026, pukul 19.59 WIB. Fenomena vulkanik ini terekam dengan tinggi kolom abu mencapai 700 meter di atas puncak gunung.
Aktivitas vulkanik tersebut memiliki durasi sekitar 4 menit 10 detik dengan amplitudo maksimum 20 mm sebagaimana dilansir dari Detikcom. Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Yadi Yuliandi, mengonfirmasi terjadinya letusan yang diikuti oleh kolom abu tebal berwarna kelabu.
"Telah terjadi erupsi Gunung Semeru pada pukul 19.59 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 700 meter di atas puncak atau 4.376 meter di atas permukaan laut (mdpl)," kata Yadi Yuliandi, Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru.
Laporan tertulis dari pihak pengamatan menyebutkan bahwa kolom abu tersebut bergerak condong ke arah barat. Selain material abu, Gunung Semeru juga mengeluarkan material panas yang meluncur cukup jauh dari pusat kawah.
"Terjadi letusan dengan diikuti awan panas dengan jarak luncur 4,5 km dari puncak," ujar Yadi Yuliandi.
Saat ini tingkat aktivitas gunung api tertinggi di Pulau Jawa tersebut masih bertahan pada level III atau Siaga. Otoritas terkait menetapkan zona merah di sepanjang Besuk Kobokan hingga jarak 13 kilometer dari puncak karena risiko tinggi aliran awan panas.
"Masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius 5 km dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar)," kata Yadi Yuliandi.
Larangan aktivitas juga berlaku pada radius 500 meter di tepi sungai sepanjang Besuk Kobokan karena potensi perluasan lahar dingin yang bisa mencapai jarak 17 kilometer. Petugas terus memantau pergerakan material vulkanik di sejumlah lembah sungai utama.
Potensi bahaya sekunder berupa lahar juga mengancam aliran sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·