Gunung Semeru di Jawa Timur kembali mengalami erupsi pada Kamis (14/5/2026) pukul 15.18 WIB, yang menambah catatan aktivitas vulkanik menjadi 35 kali dalam sepekan terakhir. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan letusan tersebut terekam melalui seismograf.
Data dari aplikasi MAGMA Indonesia menunjukkan erupsi ini memiliki amplitudo maksimum 22 milimeter dengan durasi gempa selama 121 detik. Meskipun terekam secara teknis, pengamatan visual terhadap kolom abu letusan sore ini tidak dapat teramati oleh petugas lapangan.
Berdasarkan laporan aktivitas gunung api yang dirilis MAGMA Indonesia, tingkat aktivitas Gunung Semeru saat ini masih bertahan di Level III atau Siaga. Pada periode pengamatan pagi hari pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, tercatat sudah terjadi 14 kali gempa letusan dengan rentang waktu 74-147 detik.
Selain gempa letusan, instrumen PVMBG juga mendeteksi adanya satu kali gempa hembusan dengan amplitudo 6 milimeter yang berlangsung selama 49 detik. Kondisi ini menunjukkan fluktuasi aktivitas vulkanik yang masih tinggi di gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut.
Otoritas PVMBG telah mengeluarkan instruksi tegas bagi masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara, tepatnya di sepanjang Besuk Kobokan, hingga jarak 13 kilometer dari puncak. Larangan ini bertujuan untuk menghindari dampak langsung dari material erupsi.
Masyarakat juga diminta menjaga jarak minimal 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena adanya ancaman perluasan awan panas. Risiko aliran lahar juga diprediksi dapat mencapai jarak hingga 17 kilometer dari pusat erupsi jika terjadi hujan di wilayah puncak.
Secara nasional, MAGMA Indonesia mencatat total 1.972 letusan gunung api telah terjadi di seluruh wilayah Indonesia sepanjang tahun 2026. Dari jumlah tersebut, Gunung Semeru menjadi gunung api paling aktif di tanah air dengan total 1.009 kali letusan terdokumentasi.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·