PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Permasalahan klasik terkait penumpukan guru di wilayah perkotaan masih menjadi tantangan dalam dunia pendidikan, termasuk di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng).
Menanggapi hal tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kalteng, Muhammad Reza Prabowo, mengakui kondisi tersebut sekaligus memaparkan strategi yang kini diterapkan untuk mengatasinya.
Reza menjelaskan, secara rasio sebenarnya jumlah guru di Kalteng sudah mencukupi jika dibandingkan dengan jumlah siswa.
Saat ini, total siswa SMA/SMK/SKH mencapai sekitar 97 ribu hingga 99 ribu orang, sementara jumlah guru mendekati 9.000 orang.
“Terkait penumpukan guru di kota itu betul. Kalau dilihat secara matematis, rasio kita itu sekitar satu banding sepuluh. Artinya satu guru bisa meng-handle 9 sampai 10 siswa,” ujar Reza, Senin (20/4/2026).
Namun demikian, kondisi di lapangan tidak merata. Ia menyebut masih banyak sekolah di daerah pedalaman yang kekurangan tenaga pengajar, khususnya untuk mata pelajaran tertentu seperti matematika, kimia, biologi, hingga bahasa Inggris, sementara guru justru terkonsentrasi di kota-kota besar.
“Banyak guru kita terpusat di kota, sementara di pedalaman masih kekurangan. Ini yang menjadi perhatian kita bersama,” jelasnya.

Sebagai solusi, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalteng di bawah kepemimpinan Gubernur H. Agustiar Sabran mendorong sistem pembelajaran berbasis digital melalui skema hybrid.
Metode ini memungkinkan satu guru mengajar dua lokasi sekaligus, yakni siswa di kelas langsung dan siswa di sekolah lain secara daring dalam waktu yang sama.
“Sekarang pembelajaran bisa dilakukan secara hybrid. Misalnya guru di Palangka Raya mengajar di sekolahnya, tapi juga terhubung dengan siswa di SMAN 1 Bukit Raya melalui TV interaktif. Jadi dalam waktu yang sama, proses belajar mengajar tetap berjalan,” ungkap Reza.
Dengan pendekatan ini, Disdik Kalteng optimistis dapat mengatasi ketimpangan distribusi guru tanpa harus memindahkan tenaga pengajar secara fisik, sekaligus memastikan seluruh siswa di berbagai wilayah tetap mendapatkan akses pendidikan yang berkualitas.(tim)
PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Permasalahan klasik terkait penumpukan guru di wilayah perkotaan masih menjadi tantangan dalam dunia pendidikan, termasuk di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng).
Menanggapi hal tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kalteng, Muhammad Reza Prabowo, mengakui kondisi tersebut sekaligus memaparkan strategi yang kini diterapkan untuk mengatasinya.
Reza menjelaskan, secara rasio sebenarnya jumlah guru di Kalteng sudah mencukupi jika dibandingkan dengan jumlah siswa.

Saat ini, total siswa SMA/SMK/SKH mencapai sekitar 97 ribu hingga 99 ribu orang, sementara jumlah guru mendekati 9.000 orang.
“Terkait penumpukan guru di kota itu betul. Kalau dilihat secara matematis, rasio kita itu sekitar satu banding sepuluh. Artinya satu guru bisa meng-handle 9 sampai 10 siswa,” ujar Reza, Senin (20/4/2026).
Namun demikian, kondisi di lapangan tidak merata. Ia menyebut masih banyak sekolah di daerah pedalaman yang kekurangan tenaga pengajar, khususnya untuk mata pelajaran tertentu seperti matematika, kimia, biologi, hingga bahasa Inggris, sementara guru justru terkonsentrasi di kota-kota besar.
“Banyak guru kita terpusat di kota, sementara di pedalaman masih kekurangan. Ini yang menjadi perhatian kita bersama,” jelasnya.
Sebagai solusi, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalteng di bawah kepemimpinan Gubernur H. Agustiar Sabran mendorong sistem pembelajaran berbasis digital melalui skema hybrid.
Metode ini memungkinkan satu guru mengajar dua lokasi sekaligus, yakni siswa di kelas langsung dan siswa di sekolah lain secara daring dalam waktu yang sama.
“Sekarang pembelajaran bisa dilakukan secara hybrid. Misalnya guru di Palangka Raya mengajar di sekolahnya, tapi juga terhubung dengan siswa di SMAN 1 Bukit Raya melalui TV interaktif. Jadi dalam waktu yang sama, proses belajar mengajar tetap berjalan,” ungkap Reza.
Dengan pendekatan ini, Disdik Kalteng optimistis dapat mengatasi ketimpangan distribusi guru tanpa harus memindahkan tenaga pengajar secara fisik, sekaligus memastikan seluruh siswa di berbagai wilayah tetap mendapatkan akses pendidikan yang berkualitas.(tim)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·