Hantavirus, cermin peradaban dan luka ekologi manusia

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Hantavirus mengajarkan bahwa penyakit tidak selalu lahir dari rumah sakit. Ia dapat bermula dari gudang yang lembap, pasar yang padat, sawah yang dekat permukiman, rumah kosong yang lama tertutup, kapal yang menyeberangi samudra, atau debu yang terangkat saat lantai disapu kering.

Di sana, kesehatan manusia, tikus, sampah, makanan, udara, perilaku, dan ekonomi hidup dalam satu jaringan.

Secara medis, hantavirus adalah kelompok virus yang terutama ditularkan oleh hewan pengerat. Penyakit ini dapat menimbulkan hantavirus pulmonary syndrome atau HPS (sindrom paru berat akibat hantavirus) dan hemorrhagic fever with renal syndrome atau HFRS (demam berdarah dengan gangguan ginjal).

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menjelaskan bahwa hantavirus tersebar, terutama melalui rodensia, dapat menyebabkan penyakit berat dan kematian, serta sebagian besar jenisnya tidak menular antarmanusia.

Dalam kesehatan masyarakat, hantavirus bukan hanya urusan diagnosis. Ia adalah ujian terhadap sanitasi, surveilans, tata ruang, literasi risiko, dan kesiapan fasilitas layanan kesehatan. Penyakit ini sering bermula dari paparan terhadap urine, feses, saliva, atau debu yang terkontaminasi ekskresi hewan pengerat.

Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan reservoir, ekskresi yang mengenai kulit luka atau membran mukosa, serta aerosol (partikel halus di udara yang terkontaminasi).

Indonesia perlu membaca hantavirus secara proporsional. Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa HPS belum pernah dilaporkan di Indonesia, tetapi kewaspadaan terhadap kasus importasi perlu ditingkatkan karena tingginya lalu lintas perjalanan internasional. Pada 2024 hingga minggu epidemiologi ke-18 tahun 2026, Indonesia melaporkan 23 kasus konfirmasi HFRS di sembilan provinsi.

Artinya, hantavirus tidak boleh dibesar-besarkan, hingga menimbulkan panik, tetapi juga tidak boleh dikecilkan sampai luput dari radar klinis. Di negeri tropis, demam akut sering segera diarahkan ke dengue, tifoid, leptospirosis, malaria, influenza, atau infeksi saluran napas. Hantavirus perlu masuk diagnosis banding bila demam disertai riwayat paparan tikus, gangguan ginjal, trombosit rendah, sesak napas, atau paparan lingkungan berisiko.

Ekologi tikus dan kota

Hantavirus memperlihatkan bahwa ekologi bukan teori jauh di ruang kuliah. Ekologi hadir di dapur, selokan, gudang, pasar, pelabuhan, permukiman padat, sawah, dan kawasan banjir.

Tikus bukan sekadar hama. Ia dapat menjadi indikator kualitas lingkungan. Bila makanan terbuka, sampah menumpuk, celah rumah tidak tertutup, gudang gelap, dan drainase buruk, manusia sedang membangun jembatan antara reservoir dan tubuhnya sendiri.

Karena itu, pendekatan one health (pendekatan terpadu antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan) menjadi sangat penting. Dokter tidak dapat bekerja sendirian. Dinas kesehatan, petugas kebersihan, pengelola pasar, pelabuhan, sektor pertanian, laboratorium, sekolah, rumah ibadah, media, dan masyarakat perlu membaca risiko yang sama. Pencegahan hantavirus berarti memperbaiki hubungan manusia dengan ruang hidupnya.

Pada awal Mei 2026, perhatian global meningkat, setelah WHO melaporkan klaster penyakit virus hanta terkait kapal pesiar MV Hondius. Laporan WHO awal menyebut tujuh kasus, termasuk tiga kematian, sedangkan pembaruan Kementerian Kesehatan RI per 9 Mei 2026 mencatat delapan kasus, enam konfirmasi HPS strain Andes virus, dua probable, dan tiga kematian.

Peristiwa ini penting karena Andes virus memiliki karakter khusus. CDC menjelaskan bahwa Andes virus dapat menyebar melalui kontak dengan rodensia, benda terkontaminasi, atau secara jarang melalui kontak dekat dengan orang sakit. CDC juga menyatakan bahwa Andes virus adalah satu-satunya hantavirus yang diketahui dapat menular antarmanusia, biasanya pada kontak dekat.

Dalam ekonomi kesehatan, penyakit yang jarang tetap dapat mahal. Beban hantavirus terdiri atas biaya langsung, seperti pemeriksaan laboratorium, rawat inap, rujukan, isolasi, ICU, oksigen, ventilator, dan dialisis; sedangkan biaya tidak langsung, seperti kehilangan hari kerja, penurunan produktivitas, dan biaya transportasi; serta biaya sosial berupa kecemasan keluarga, gangguan aktivitas komunitas, tekanan psikologis, dan menurunnya rasa aman lingkungan.

Pencegahan jauh lebih murah daripada kegawatdaruratan. Menutup celah rumah, menyimpan makanan dalam wadah tertutup, mengelola sampah, memakai masker dan sarung tangan saat membersihkan area berisiko, membasahi kotoran tikus dengan disinfektan sebelum dibersihkan, serta memperkuat surveilans puskesmas adalah investasi mikro yang dapat mencegah biaya makro. Kemenkes juga menekankan pengendalian reservoir di permukiman dan pertanian/perkebunan sebagai bagian dari respons terpadu.

Dalam bahasa ekonomi kesehatan, hantavirus memperlihatkan nilai cost avoidance (biaya yang berhasil dihindari). Satu gudang yang dibersihkan dengan aman dapat mencegah satu keluarga masuk rantai rujukan. Satu pasar yang sanitasinya baik dapat mengurangi risiko pada pedagang, pembeli, petugas kebersihan, dan rantai logistik pangan.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.