Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) melaporkan lonjakan harga bahan baku tekstil hingga 40 persen akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengganggu jalur distribusi global. Kenaikan drastis ini terjadi pada Kamis (16/4/2026) seiring dengan tersendatnya pasokan turunan minyak bumi dari kawasan tersebut.
Kenaikan biaya produksi tersebut dipicu oleh ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Dilansir dari Money, kondisi ini memaksa pelaku industri tekstil nasional mencari sumber pasokan alternatif guna menjaga keberlangsungan produksi di tengah ketiadaan suplai lokal.
Direktur Eksekutif API, Danang Girindrawardana, memberikan penegasan mengenai besarnya kenaikan harga yang saat ini membebani para produsen tekstil di tanah air.
“Kenaikan bahan baku tekstil ini kan sudah gila-gilaan ya, 30 persen, 40 persen kan?” kata Danang saat ditemui di JIExpo, Jakarta.
Danang menjelaskan bahwa penutupan Selat Hormuz menjadi faktor utama terhambatnya arus logistik produk kimia turunan minyak bumi yang merupakan komponen krusial dalam pembuatan benang.
“Jangan salah, ada banyak bahan baku tekstil dari Timur Tengah dan kalau terjadi benar-benar Selat Hormuz tidak memungkinkan untuk menjadi lalu lintas sementara bahan-bahan itu memang turunan minyak,” ujar Danang.
Situasi ini diprediksi akan berdampak luas mengingat 70 persen pasokan nafta dunia berasal dari Asia Barat. Selain menghadapi kendala bahan baku, industri juga mengkhawatirkan potensi kenaikan tarif listrik meski pemerintah menjamin stabilitas harga BBM hingga akhir tahun 2026.
Berdasarkan perhitungan API, akumulasi kenaikan biaya energi dan bahan baku berpotensi membengkakkan total biaya produksi lebih dari 50 persen. Kondisi tersebut diperkirakan akan diteruskan kepada harga jual di tingkat ritel.
“Pada akhirnya konsumen dalam negeri kita yang akan mengalami kenaikan harga tekstil dan produk tekstil di ujung,” tutur Danang.
Hingga saat ini, pelaku usaha terus memantau perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah yang telah berlangsung lebih dari satu bulan tersebut.
“Pasti akan naik. Tapi kita tidak berharap tahun ini ya. Kita lihat perkembangannya,” tambahnya.
Sebagai langkah mitigasi, pelaku industri tekstil mulai mengalihkan ketergantungan pasokan bahan baku dari Asia Barat ke negara-negara seperti China, India, dan Vietnam. Langkah substitusi ini diambil untuk menekan biaya operasional yang mulai tidak terkendali akibat fluktuasi harga komoditas global.
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·