Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) melaporkan adanya kenaikan signifikan pada harga biji kopi arabika di pasar domestik. Lonjakan harga tersebut tercatat mencapai rentang 30 hingga 40 persen.
Ketua Kompartemen Industri dan Specialty Coffee AEKI, Moelyono Soesilo, merinci bahwa harga komoditas ini melonjak dari level 6,5 dollar AS per kilogram menjadi kisaran 9,3 hingga 9,5 dollar AS per kilogram. Seperti dikutip dari Money, nilai ini setara dengan ratusan ribu rupiah per kilogram.
Bila mengacu pada asumsi kurs Rp 17.245 per dollar AS, maka nilai jual biji kopi arabika di dalam negeri kini berada di angka Rp 160.378,50 sampai Rp 163.827,50 per kilogram, dari sebelumnya Rp 112.092,50.
"Sempat mencapai level tertingginya pada bulan Januari 2026 di level 10 dollar AS (per kilogram) lebih," kata Moelyono.
Kenaikan ini dinilai sebagai sebuah anomali karena berbanding terbalik dengan tren di pasar internasional. Saat ini, harga biji arabika di pasar global serta harga jenis robusta di pasar domestik justru menunjukkan tren penurunan dibanding periode tahun lalu.
"Untuk kopi biji arabika Indonesia mengalami anomali berbeda, terjadi kenaikan, berbalik dengan harga kopi biji arabika dunia yang menurun juga," ujar Moelyono.
Penyebab utama lonjakan harga ini adalah terganggunya siklus panen dan rusaknya lahan perkebunan di wilayah Aceh dan Sumatra Utara pada akhir November 2025. Bencana banjir bandang serta tanah longsor menerjang daerah penghasil utama seperti Gayo Lues.
"Kenaikan ini terjadi karena gangguan panen dan kerusakan perkebunan kopi," tutur Moelyono.
Dampak kerusakan di Gayo Lues memicu penurunan pasokan biji kopi arabika di pasar lokal secara keseluruhan. Kondisi ini secara otomatis mengerek naik harga arabika dari daerah produsen lainnya di Indonesia.
"Tapi kenaikan tidak setinggi kopi-kopi dari daerah Aceh dan Sumut," kata Moelyono.
Saat ini, upaya pemulihan lahan yang terdampak bencana mulai dilakukan oleh para petani dan pihak terkait. Proses penanaman kembali atau replanting telah berjalan di sejumlah titik untuk menormalkan kembali produktivitas perkebunan.
"Sudah ada replanting di sebagian daerah," tuturnya.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·