Harga Emas Dunia Turun ke Level Terendah Akibat Konflik Selat Hormuz

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Harga emas dunia mengalami penurunan ke level terendah sejak 13 April pada Jumat, 24 April 2026, akibat kebuntuan konflik antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz. Kondisi ini memicu lonjakan harga minyak mentah dan kekhawatiran inflasi global yang berkelanjutan.

Data pasar menunjukkan harga emas spot turun 0,2 persen menjadi USD 4.683,23 per ons, sementara kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni merosot 0,5 persen ke posisi USD 4.699. Penurunan ini menandai potensi pelemahan mingguan pertama bagi emas setelah mencatatkan reli kenaikan selama empat minggu berturut-turut.

Analis independen Ross Norman menjelaskan bahwa pergerakan harga minyak mentah menjadi faktor krusial yang menekan posisi logam mulia saat ini.

"Oil is going to be a pinch point in the Strait of Hormuz. It's going to remain elevated. And for sure, the decline in gold has mirrored the rally in oil," ujar Ross Norman, Analis Independen.

Norman menambahkan bahwa emas saat ini sedang kesulitan menemukan momentum untuk kembali bergerak ke arah atas di tengah situasi pasar yang dinamis.

"The reality is gold is struggling to get upside momentum. When you can't breach the upside, you tend to attack the downside, and I think that's probably where we're at right now," kata Ross Norman.

Ketegangan geopolitik meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak terburu-buru mencapai kesepakatan damai dengan Iran dan memerintahkan Angkatan Laut AS untuk menindak kapal yang memasang ranjau di selat tersebut. Di sisi lain, harga minyak mentah Brent telah melonjak sekitar 18 persen minggu ini hingga bertahan di atas USD 105 per barel.

Rhona O’Connell dari StoneX Group Inc. memberikan catatan bahwa pelaku pasar profesional cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi besar di tengah kondisi geopolitik yang memanas.

"The precious metals market is “going to remain cautious and volatile,”" kata Rhona O’Connell, Head of Market Analysis for EMEA and Asia StoneX Group Inc.

Brett Elliott dari American Precious Metals Exchange (APMEX) memproyeksikan adanya risiko penurunan harga lebih lanjut meskipun rata-rata harga emas tahun ini diperkirakan tetap tinggi.

"Based on revised gold forecasts we've seen more recently, gold is expected to average $4,500 this year, and potentially top out at $5,800," ujar Brett Elliott, Director of Content APMEX.

Elliott juga memperingatkan adanya risiko harga emas dapat menyentuh level tertentu jika tren koreksi terus berlanjut.

"There's also downside risk that gold could drop to $4,000," kata Brett Elliott.

Ia menyoroti bahwa volatilitas pasar saat ini sangat ekstrem dibandingkan beberapa tahun lalu, di mana pergerakan harga ratusan dolar bisa terjadi dalam waktu singkat.

"A few years ago, a $500 swing in the price of gold would have been considered unheard of," ujar Brett Elliott.

Elliott mencatat bahwa emas baru-baru ini mengalami fluktuasi harga yang sangat signifikan dari level USD 5.400 ke USD 4.100 dalam hitungan minggu.

"But gold went from $5,400 to $4,100 in a matter of three or four weeks recently. I would classify this as a significant swing, and I do expect more volatility moving forward," kata Brett Elliott.

Thomas Winmill dari Midas Funds memperkirakan bahwa harga emas akan terus menunjukkan variasi nilai sepanjang tahun berjalan.

"During the course of the year, we anticipate gold's price to show extreme volatility, and at various times likely lose value, hold steady, and grow in value," ujar Thomas Winmill, Portfolio Manager Midas Funds.

Sementara itu, Hiren Chandaria dari Monetary Metals menyarankan investor untuk tidak terkejut dengan koreksi tajam karena tren jangka panjang emas dinilai masih konstruktif.

"It's important not to be surprised by sharp corrections within a broader bull trend," kata Hiren Chandaria, Managing Director Monetary Metals.

Chandaria melihat potensi kenaikan harga emas dalam jangka panjang meskipun risiko penurunan tetap ada jika likuiditas pasar mengetat.

"In the near term, downside risk remains if rates stay elevated and liquidity tightens. However, over the longer term, I remain constructive. Gold has the potential to move toward $7,200, though not necessarily within 2026," ujar Hiren Chandaria.

Ia merekomendasikan strategi akumulasi bertahap saat harga sedang mengalami pelemahan daripada menginvestasikan dana sekaligus.

"The key is to distinguish between short-term corrections and long-term trajectory, and in that context, any corrections from here should be seen as opportunities to accumulate," kata Hiren Chandaria.

Chandaria menyarankan bagi investor baru untuk memulai alokasi secara bertahap sesuai dengan kondisi harga pasar.

"Rather than investing a lump sum, I would strongly recommend a buy-on-dips approach. For someone not yet invested, it makes sense to start with about 30% of their intended allocation at current prices, and then add incrementally during periods of weakness," ujar Hiren Chandaria.

Di pasar fisik, premi emas di India melonjak ke level tertinggi dalam dua setengah bulan terakhir karena pengetatan pasokan, sementara minat beli di China dilaporkan mulai meningkat kembali.