Harga emas dunia mengalami penurunan signifikan pada perdagangan kemarin. Logam mulia ini melemah selama empat hari beruntun, menjadikannya lesu sepanjang pekan ini.
Dikutip dari Bloombergtechnoz, harga emas dunia di pasar spot ditutup pada level US$ 4.547,9/troy ons pada Jumat (15/5/2026). Nilai ini merosot 2,22% dari hari sebelumnya dan menjadi yang terendah sejak 4 Mei.
Penurunan selama empat hari berturut-turut tersebut membuat harga emas terjungkal hingga 4%. Sementara itu, sepanjang pekan ini, akumulasi koreksi harga sang logam mulia mencapai 3,56%.
Konflik di Timur Tengah menjadi beban utama bagi pergerakan komoditas ini. Sejak pertempuran pecah pada akhir Februari lalu, harga aset perlindungan ini sudah anjlok lebih dari 13%.
Kekhawatiran utama pasar tertuju pada kelancaran produksi dan distribusi komoditas energi. Penutupan Selat Hormuz membuat kapal dagang belum bisa melintas, sehingga harga energi tetap membubung tinggi.
Kondisi tersebut tercermin dari harga minyak jenis brent yang melesat 3,33% ke US$ 109,24/barel kemarin. Dalam sepekan, harga brent sudah melejit sebesar 7,85%.
Kenaikan harga energi memicu kecemasan pelaku pasar terhadap ancaman inflasi tinggi global. Situasi ini dinilai mempersulit bank sentral dunia untuk memangkas suku bunga acuan dalam waktu dekat.
Emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil. Kondisi ini membuat kepemilikan emas menjadi kurang menguntungkan selama suku bunga belum mengalami penurunan.
Tekanan terhadap logam mulia diperkirakan masih berlanjut. Kondisi makroekonomi saat ini memicu perubahan proyeksi jangka panjang untuk komoditas tersebut.
“Ekspektasi inflasi, yield (imbal hasil) obligasi yang tinggi, dan penguatan dolar Amerika Serikat (AS) mungkin akan terus menekan harga emas,” tulis catatan ANZ Group Holdings Ltd, seperti dikutip dari Bloomberg News.
Lembaga tersebut akhirnya menggeser target harga emas mencapai US$ 6.000/troy ons ke pertengahan 2027. Padahal, estimasi awal diperkirakan bisa terealisasi pada awal tahun depan.
Analisis Teknikal Pergerakan Pasar
Melihat grafik mingguan, posisi emas saat ini masih berada dalam zona bearish. Indikator Relative Strength Index (RSI) 14 hari menunjukkan angka 49.
Posisi RSI di bawah 50 merefleksikan tren bearish, meskipun angka saat ini tergolong tipis dan cenderung netral. Di sisi lain, indikator Stochastic RSI 14 hari menyentuh level nol yang menandakan kondisi sangat jenuh jual (oversold).
Peluang rebound masih terbuka untuk perdagangan pekan depan. Pelaku pasar perlu mencermati titik pivot point yang berada di level US$ 4.660/troy ons.
Jika mampu melewati titik tersebut, emas berpotensi menguji area resisten pada rentang US$ 4.682-4.684/troy ons. Target resisten berikutnya berada di level US$ 4.739-4.872/troy ons.
Untuk skenario penguatan paling optimistis, target resisten terjauh berada di posisi US$ 5.111/troy ons.
Sebaliknya, jika tren penurunan berlanjut, level US$ 4.496/troy ons akan menjadi target support terdekat. Kegagalan bertahan di titik ini berisiko menekan harga ke area US$ 4.410-4.396/troy ons.
Adapun target paling pesimistis untuk support terjauh berada pada level US$ 4.291/troy ons.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·