Harga emas di pasar global mengalami penurunan sekitar 11 persen sejak pecahnya konflik di Iran pada 28 Februari 2026, yang memicu fenomena tidak lazim pada aset safe haven tersebut. Dilansir dari Money melalui Forbes pada Senin (11/5/2026), pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dunia.
Data perdagangan menunjukkan harga emas spot merosot 0,6 persen ke level 4.684,32 dollar AS per ons, sementara emas berjangka AS turun 0,8 persen menjadi 4.692,70 dollar AS per ons. Penurunan ini didorong oleh beralihnya peran emas dari aset pelindung nilai menjadi sumber pendanaan cepat bagi negara-negara yang mengalami krisis likuiditas dollar AS.
Kepala Strategi Makro LPL Financial, Kristian Kerr, memberikan penjelasan mengenai perubahan fungsi logam mulia ini dalam laporan terbarunya. Kerr menyoroti tekanan pendanaan yang dialami negara-negara Teluk Persia akibat gangguan distribusi minyak di Selat Hormuz.
Menurut Kerr, emas saat ini tidak hanya menjadi alat lindung nilai, tetapi juga komoditas dan cadangan devisa yang dijual untuk memenuhi kewajiban pembayaran mendesak. Turkiye tercatat telah melakukan swap cadangan emas senilai 3 miliar dollar AS dalam satu pekan pada Maret 2026 untuk menstabilkan mata uang lira.
Kondisi pasar semakin tertekan setelah harapan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran memudar. Presiden AS Donald Trump secara resmi menolak usulan respons perdamaian dari pihak Iran pada Minggu (10/5/2026), yang berdampak pada kenaikan harga energi global dan penguatan dollar AS.
Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, menilai bahwa memudarnya harapan kesepakatan damai memberikan tekanan ganda bagi emas melalui kenaikan harga minyak mentah.
"Pada dasarnya kita melihat memudarnya harapan akan tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat, dan emas ikut tertekan akibat kembali naiknya harga minyak mentah," ujar Waterer.
Waterer menambahkan bahwa tingginya harga minyak berisiko memicu inflasi yang memaksa suku bunga tetap tinggi, sehingga mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.
"Dalam jangka pendek hingga menengah, kisaran harga 4.400 dollar AS hingga 4.800 dollar AS masih tampak kuat selama kita berada dalam situasi gencatan senjata tanpa kesepakatan damai," kata Waterer.
Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada rilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) AS periode April 2026. Data tersebut akan menjadi indikator penting bagi Federal Reserve dalam menentukan kebijakan moneter selanjutnya di tengah risiko stabilitas keuangan global akibat konflik Timur Tengah.
3 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·