Harga Gandum Melonjak Akibat Kekeringan Global dan Krisis Pupuk

Sedang Trending 2 hari yang lalu

Harga gandum global diprediksi mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam hampir dua bulan pada Jumat, 17 April 2026, akibat kekhawatiran cuaca ekstrem dan krisis pasokan pupuk menyusul konflik Iran melawan Amerika Serikat. Kondisi ini memicu ancaman serius terhadap prospek pasokan tanaman pangan dunia.

Kontrak gandum paling aktif di Chicago Board of Trade diperkirakan melonjak hampir 5% pekan ini, yang menjadi kenaikan tertinggi sejak Februari menurut laporan Bloombergtechnoz. Varietas gandum merah keras musim dingin bahkan mencapai level tertingginya sejak Juni 2024 di tengah ketidakpastian pasar global.

Laporan Vaisala XWeather menunjukkan kekeringan parah masih melanda area utama Great Plains di Amerika Serikat dan wilayah Laut Hitam serta sebagian Eropa. Di Australia, para petani menghadapi tantangan ganda berupa kekurangan input pertanian dan kekeringan terus-menerus yang membebani produktivitas lahan eksportir utama tersebut.

Analisis mengenai pergerakan harga ini didominasi oleh faktor lingkungan di wilayah barat Amerika Serikat yang krusial bagi produksi pangan. Hal tersebut memicu kekhawatiran mendalam bagi para pelaku pasar komoditas internasional.

"Sebagian besar kenaikan harga didorong oleh kondisi kekeringan yang berkelanjutan di wilayah gandum HRW barat," kata Tobin Gorey, seorang ahli strategi di Cornucopia Agri Analytics.

Gorey menjelaskan bahwa faktor lain yang mendorong lonjakan harga adalah ketidakpastian distribusi logistik pertanian di belahan bumi selatan. Selain itu, fenomena iklim global yang akan datang turut memperburuk spekulasi pasar terhadap stok pangan.

"Kekhawatiran akan pasokan pupuk, terutama untuk tanaman musim dingin di selatan seperti di Australia, dan El Nino yang akan datang juga telah membantu menaikkan harga," tambah Gorey.

Meskipun tren harga saat ini meningkat tajam, Gorey menilai adanya batas atas pada kenaikan tersebut jika melihat cadangan pangan dunia secara keseluruhan. Namun, ia tetap memberikan catatan penting mengenai potensi gangguan panen di wilayah produsen besar lainnya.

"Kenaikan harga ini mungkin memiliki batasan mengingat pasokan global yang melimpah. Namun, potensi masalah tanaman di Australia dan Argentina dapat menjadi katalis untuk kenaikan harga lebih lanjut di kemudian hari," tambah Gorey.

Data survei Bloomberg menunjukkan luas lahan tanam gandum 2026/27 di Australia diperkirakan merosot ke level terendah dalam tujuh tahun terakhir. Penurunan ini dipicu oleh rendahnya harga komoditas sebelumnya serta kelangkaan bahan bakar dan pupuk yang menghambat aktivitas tanam.

Di sisi geopolitik, Presiden AS Donald Trump menyatakan adanya peluang gencatan senjata permanen dengan Iran pada minggu ketujuh konflik. Meski demikian, penutupan Selat Hormuz tetap berlanjut sehingga memperpanjang krisis energi yang mengancam produksi pangan global secara berkelanjutan.