Harga Minyak Turun Lagi, Sinyal Damai AS-Iran Redakan Ketegangan Pasar

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi Produksi Minyak Mentah Brent. Foto: Scott Heppel/AFP

Harga minyak dunia melanjutkan penurunan untuk hari kedua setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan adanya kemajuan besar menuju kesepakatan akhir untuk mengakhiri perang dengan Iran.

Dikutip dari Bloomberg pada Rabu (6/5), minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun mendekati USD 100 per barel pada Rabu (6/5), setelah sebelumnya merosot 3,9 persen pada Selasa (5/5). Sementara itu, Brent crude ditutup di kisaran USD 110 per barel.

Trump mengatakan upaya AS untuk mengawal kapal melalui Selat Hormuz akan dihentikan sementara, namun blokade laut tetap diberlakukan. Pernyataan itu disampaikan melalui platform Truth Social.

Sejak perang pecah pada akhir Februari, harga Brent telah melonjak lebih dari 50 persen akibat terhambatnya pasokan minyak dari Teluk Persia ke pasar global. Saat ini, arus distribusi minyak terganggu oleh blokade ganda: Iran menghambat pelayaran, sementara AS menutup akses ke pelabuhan Iran.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan operasi militer “Operation Epic Fury” telah berakhir, 66 hari setelah AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran.

“Operasi Epic Fury telah selesai. Kami telah mencapai tujuan dari operasi tersebut,” ujarnya.

Pemerintah AS juga meredam kekhawatiran kembalinya perang terbuka. Menteri Pertahanan Pete Hegseth menegaskan gencatan senjata yang dimulai hampir sebulan lalu masih berlaku.

Kepala Staf Gabungan AS, Dan Caine, menyebut serangan Iran terhadap kapal di Teluk Persia dan Uni Emirat Arab tidak dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata.

Namun, gangguan di Selat Hormuz berdampak besar. Lebih dari 1.550 kapal komersial dengan sekitar 22.000 awak dilaporkan terjebak di kawasan Teluk Persia.

Di sisi lain, data industri AS menunjukkan stok minyak mentah turun 8,1 juta barel pekan lalu. Analis minyak dan gas Enverus, Carl Larry, menyebut pergerakan pasar saat ini didominasi aksi ambil untung.

“Kita melihat pola dari reli ke aksi ambil untung setiap hari. Pasar mungkin terlihat tenang, tapi euforia berlebihan sering kali berakhir buruk. Penurunan stok biasanya menarik minat investor bullish,” ujarnya.

Sejak perang dimulai, harga minyak mengalami fluktuasi tajam, membuat banyak pelaku pasar memilih menahan posisi untuk menghindari volatilitas ekstrem. Minat terbuka (open interest) kontrak Brent bahkan turun ke level terendah sejak Agustus 2025.

Sementara itu, Arab Saudi memangkas harga jual minyak utamanya untuk pasar Asia bulan depan dari level tertinggi pada Mei. Meski demikian, harga tetap tinggi karena konflik Timur Tengah masih mengganggu pasokan global secara signifikan.

video from internal kumparan