Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan menyebutkan, menempatkan kesehatan jiwa sebagai bagian integral dari peringatan Hari Kartini 2026 memperluas warisan historis menjadi agenda kesejahteraan yang konkret dan berkelanjutan.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan Imran Pambudi, di Jakarta, Selasa, bahwa peringatan Hari Kartini 2026 mengundang refleksi tentang makna emansipasi dalam konteks kesehatan, di mana pemberdayaan perempuan harus mencakup hak atas kesehatan fisik dan mental sepanjang siklus hidup.
"Awal abad 20 Raden Ajeng Kartini membuka cakrawala berpikir perempuan Indonesia dengan menegaskan hak atas pendidikan, martabat, dan kebebasan berekspresi—nilai-nilai yang membentuk perempuan berbudaya: berwawasan, berani bersuara, dan menjaga kehormatan diri," katanya.
Menurutnya, warisan Kartini bukan hanya soal akses ke sekolah atau pekerjaan, melainkan juga tentang kemampuan perempuan untuk memahami, merawat, dan menuntut hak atas kesejahteraan batin mereka. Ketika perempuan diberi ruang untuk belajar, berkarya, dan bersuara, kesehatan jiwa mereka cenderung lebih terjaga karena berkurangnya stigma, isolasi, dan ketergantungan.
Penelitian epidemiologis dan kajian layanan kesehatan menegaskan bahwa beban penyakit mental pada perempuan dan lansia perempuan bukan sekadar persoalan klinis individual, melainkan masalah kesehatan masyarakat yang berkaitan erat dengan determinan sosial.
Baca juga: Kemenpar dorong Kartini masa kini dalam gastronomi Indonesia
Sebagai contoh, Imran menyebutkan bahwa secara global, pola epidemiologi kesehatan jiwa menunjukkan bahwa perempuan mengalami prevalensi gangguan kecemasan dan depresi yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki, dipengaruhi oleh kombinasi faktor biologis, sosial, dan ekonomi. Faktor risiko seperti kekerasan berbasis gender, beban kerja ganda, ketidaksetaraan akses layanan, dan stigma sosial memperparah kerentanan ini.
Data global juga menunjukkan bahwa perempuan lebih sering mengalami depresi dan kecemasan dibanding laki-laki, dengan rasio prevalensi sekitar 1.5–2 kali lipat.
"Di Indonesia, tantangan serupa terlihat dalam bentuk disparitas akses layanan antara wilayah perkotaan dan pedesaan, keterbatasan tenaga profesional kesehatan jiwa, serta rendahnya literasi mental di sebagian komunitas," katanya.
Oleh karena itu, respons yang efektif harus melampaui intervensi medis semata dan memasukkan strategi pencegahan, penguatan jejaring sosial, serta kebijakan perlindungan sosial yang sensitif gender dan usia.
Dalam kerangka tersebut, memperjuangkan akses pendidikan dan kesempatan ekonomi tidak lagi cukup jika tidak diikuti oleh upaya sistematis untuk mengurangi beban gangguan jiwa, memperluas akses layanan, dan melindungi perempuan lansia dari marginalisasi.
Baca juga: DPR: Hari Kartini momentum beri akses pendidikan merata bagi perempuan
Intervensi yang terintegrasi, mulai dari menggabungkan screening di layanan primer hingga program intervensi psikososial berbasis komunitas menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam menurunkan gejala dan meningkatkan akses.
Selain itu, pendekatan intergenerasi yang menghubungkan generasi muda dan lansia dapat mengurangi isolasi sosial dan memperkuat peran sosial lansia perempuan, yang berdampak positif pada kesejahteraan mental mereka.
Imran menilai, menghidupkan semangat Kartini dalam konteks kesehatan jiwa menuntut sinergi antara kebijakan publik dan inisiatif masyarakat. Pemerintah mengintegrasikan layanan kesehatan jiwa ke dalam layanan primer secara sistematis, memperkuat kapasitas puskesmas untuk melakukan skrining dan rujukan, serta meningkatkan jumlah dan distribusi tenaga profesional termasuk layanan geriatri mental.
Kebijakan perlindungan sosial yang menargetkan perempuan lansia rentan—meliputi bantuan ekonomi, akses layanan kesehatan, dan program pencegahan kekerasan—adalah langkah penting untuk mengurangi kerentanan struktural.
Menurutnya, dengan kebijakan yang berpihak, layanan yang terintegrasi, dan gerakan masyarakat yang inklusif, warisan Kartini dapat diwujudkan dalam bentuk perempuan yang tidak hanya berwawasan dan berkarya, tetapi juga sehat secara jiwa sepanjang hidup.
Baca juga: LSF: Peringatan Hari Kartini harus berfokus pada kebijakan konkret
Baca juga: Kemendukbangga: Hari Kartini momentum perkuat kolaborasi tekan AKI-AKB
Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·