Hermandad del Rocío de Almería Mulai Ziarah Rayakan Hari Jadi ke&40

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Hermandad del Rocío de Almería resmi memulai perjalanan ziarah tahunan menuju desa El Rocío di Almonte pada Sabtu, 16 Mei 2026, dari Gereja San Pedro.

Perjalanan spiritual tahun ini menjadi momen istimewa karena bertepatan dengan perayaan hari jadi ke-40 sejak pendirian persaudaraan tersebut pada 1986, sekaligus memperingati 25 tahun pemberkatan citra Virgen del Rocío yang disemayamkan di Gereja San Pedro.

Prosesi pemberangkatan dimulai setelah pelaksanaan misa romeros pada pukul 11.00 waktu setempat, disusul keluarnya Simpecado dari dalam gereja sekitar pukul 12.15 untuk diarak melewati jalan-jalan utama pusat kota Almería.

Rute iringan kereta melewati Gereja Santiago, Plaza Virgen del Mar untuk penyerahan persembahan di Santuario Virgen del Mar, hingga mencapai Taman Nicolás Salmerón sebagai lokasi makan siang bersama sebelum rombongan bergerak meninggalkan kota.

Dalam jadwal perjalanan yang dirilis, rombongan peziarah dijadwalkan bermalam di Guadix pada hari pertama setelah sempat singgah di Fiñana, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Coria del Río pada Minggu, 17 Mei 2026.

Perjalanan berlanjut melewati Benacazón pada Senin, melintasi Vado del Quema menuju Villamanrique pada Selasa, hingga dijadwalkan tiba di Almonte pada Rabu untuk bersiap mengikuti rangkaian acara puncak termasuk misa pontifikal dan prosesi Blanca Paloma pada Senin Pentakosta.

Di sisi lain, perkembangan pergerakan keagamaan di Almería juga disorot oleh Manuel López Jérez selaku saudara tua hermandad yang merinci rencana keluarnya citra Virgen del Rocío secara luar biasa pada 26 September mendatang, di samping proyek pembangunan rumah persaudaraan baru di Jalan Tarazana.

Sementara itu, kisah inspiratif lain datang dari warga Almería, Cristóbal Juárez García, mantan penerjun payung militer berusia 44 tahun yang kini bermigrasi ke San José, Kosta Rika, demi mengejar cita-citanya menjadi dokter keluarga melalui studi di USJT.

"He cruzado el Atlántico para ser médico de familia. Si todo va bien serán tres años aquí y volveré otra vez Almería" ujar Cristóbal Juárez García saat diwawancarai mengenai keputusannya menempuh pendidikan kedokteran di luar negeri.

Sebelum memutuskan pindah kuliah, pria yang tumbuh besar di kawasan El Zapillo ini sempat bekerja sebagai perawat pelayanan primer di Ugíjar selama empat tahun serta bertugas di unit ambulans 061 Murcia.

"Fui el último niño que nació en la Cruz Roja, en la Carretera de Ronda" kata Cristóbal Juárez García mengenakan asal-usul tempat kelahirannya di Almería.

Kehidupan masa kecil Cristóbal diwarnai kenangan sepak bola bersama mendiang ayahnya, José Antonio, yang merupakan seorang wasit dan memiliki hubungan dekat dengan Andújar Oliver.

"Mi padre falleció de un infarto en diciembre de 2007, pero pudimos ver juntos el primer ascenso del Almería" ucap Cristóbal Juárez García menceritakan kenangan tak terlupakan bersama ayahnya saat menyaksikan klub Almería naik ke kasta tertinggi sepak bola Spanyol.

Sebelum mendalami bidang keperawatan melalui kuliah mandiri di UCAM pada 2015, Cristóbal sempat berkarier di militer sebagai sersan satu angkatan udara di wilayah Alcantarilla, Antequera, León, Zaragoza, dan Murcia.

"Iba del Cuartel a la Universidad y así me saqué la carrera de Enfermería" tutur Cristóbal Juárez García mengenai perjuangannya membagi waktu antara dinas militer dan perkuliahan.

Setelah lulus, motivasi untuk terus mengabdi di dunia kesehatan mendorongnya mengambil keputusan besar untuk merantau sejauh 8.700 kilometer dari kampung halamannya atas saran seorang sahabat bernama Juan Pedro.

"Quiero ser médico rural, estar con la gente humilde, de los pueblos" jelas Cristóbal Juárez García mengenai visinya setelah menyelesaikan studi kedokteran tiga tahun ke depan.

Di Kosta Rika, Cristóbal mengaku tidak kesulitan beradaptasi karena karakter masyarakat setempat yang dinilainya memiliki kemiripan dengan budaya warga Spanyol.

"Los costarricenses se parecen mucho a nosotros" pungkas Cristóbal Juárez García menutup sesi wawancara mengenai pengalaman barunya hidup di Amerika Tengah.