Hujan Meteor Eta Lyrids Lintasi Langit Indonesia Mei 2026

Sedang Trending 52 menit yang lalu

Langit malam Indonesia kembali diramaikan oleh fenomena astronomi hujan meteor Eta Lyrids pada periode Mei 2026. Peristiwa alam ini dijadwalkan berlangsung dari awal hingga pertengahan bulan dan dapat dinikmati oleh masyarakat luas.

Hujan meteor Eta Lyrids dilaporkan aktif sejak tanggal 3 hingga 14 Mei 2026, sebagaimana dikutip dari Detikcom melalui data In The Sky. Puncak kemunculannya di wilayah Indonesia diperkirakan jatuh pada 9 Mei 2026 sekitar pukul 06.00 WIB.

Masyarakat dapat mulai mengamati fenomena ini sejak titik radian muncul di ufuk timur sekitar pukul 22.18 WIB. Objek astronomi tersebut tetap akan menghiasi langit hingga menjelang fajar pada pukul 05.29 WIB.

Momen paling ideal untuk menyaksikan jatuhnya meteor diperkirakan terjadi pada pukul 04.00 WIB. Pada jam tersebut, posisi titik radian berada di titik tertinggi langit yang secara otomatis meningkatkan peluang keterlihatan meteor bagi pengamat.

Aktivitas meteor tetap bisa disaksikan beberapa hari sebelum maupun sesudah puncak tanggal 9 Mei. Namun, perlu dicatat bahwa frekuensi kemunculan meteor biasanya menurun jika dibandingkan dengan saat masa puncak aktivitasnya.

Intensitas hujan meteor ini berada pada kisaran 3 meteor per jam dalam kondisi langit yang benar-benar ideal. Khusus di wilayah perkotaan seperti Jakarta, jumlah yang terlihat kemungkinan hanya sekitar 1 meteor per jam karena pengaruh polusi cahaya.

Karakteristik dan Asal-usul Eta Lyrids

Nama Eta Lyrids merujuk pada titik radian atau asal kemunculan meteor yang berada di dekat bintang Eta Lyrae dalam rasi bintang Lyra. Fenomena tahunan ini terjadi saat Bumi melewati jalur debu yang ditinggalkan oleh objek angkasa.

Partikel kecil dari sisa komet atau asteroid terbakar saat bersentuhan dengan atmosfer Bumi pada ketinggian 70 hingga 100 kilometer. Proses pembakaran inilah yang menciptakan kilatan cahaya di langit yang sering disebut masyarakat sebagai bintang jatuh.

Sumber utama dari hujan meteor ini diidentifikasi berasal dari komet C/1983 H1 atau dikenal sebagai IRAS-Araki-Alcock. Serpihan yang tersebar di sepanjang orbit komet tersebut akan bergesekan dengan atmosfer setiap kali Bumi melintasi area yang sama.

Tips Menyaksikan Hujan Meteor

Pengamatan akan lebih maksimal jika dilakukan di lokasi yang gelap dan jauh dari pusat polusi cahaya kota. Area terbuka luas sangat disarankan agar pandangan ke arah langit tidak terhalang oleh gedung atau pepohonan tinggi.

Disarankan untuk mengarahkan pandangan sekitar 30 hingga 40 derajat dari titik radian di rasi Lyra, bukan menatap tepat ke arah pusatnya. Hal ini membantu mata menangkap jejak cahaya meteor yang lebih panjang dan jelas.

Adaptasi mata terhadap kondisi gelap sangat krusial, sehingga pengamat sebaiknya menghindari penggunaan ponsel atau lampu senter sebelum pengamatan dimulai. Fenomena ini dapat disaksikan secara langsung tanpa memerlukan bantuan alat optik seperti teleskop atau binokular.