Jakarta (ANTARA) - Cuaca panas di daerah Cipulir, Jakarta Selatan, pagi itu terasa menyengat meski jam masih menunjukkan pukul 08.30 WIB, hal yang mungkin sudah biasa dirasakan oleh orang-orang yang setiap hari bergelut dengan polusi dan sengatan matahari ibu kota.
Namun, rasa gerah seolah itu sirna saat merasakan semangat 10 Buibu Climate Leaders (BCL) yang mempresentasikan hasil gerakannya di sebuah gedung di kawasan Jakarta Selatan. Inisiasi dari komunitas buku Buibu Baca Buku Book Club (@bbbbookclub) yang berkolaborasi dengan Think Policy itu bertujuan untuk menyelamatkan bumi dengan gerakan-gerakan kecil yang perlahan memberikan dampak untuk memperbaiki kualitas iklim bumi yang kian renta.
Dari ruang komunitas sederhana hingga media sosial, perempuan-perempuan ini membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari lingkup keluarga. Sebut saja Heni Widiyaningsih, Ajeng Satiti, dan Dewi Indriyani. Ketiga ibu ini memiliki gerakan yang berbeda, tetapi tetap menjadikan literasi sebagai kunci utama dalam misi menyelamatkan bumi.
Seorang relawan sedang membacakan buku kepada anak-anak dalam sesi read aloud di acara "Politics and Policy Literacy for Mothers (PPLM) Graduation 2026" di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026). ANTARA/HO-Buibu Baca Buku Book Club.Heni Widiyaningsih, ibu tiga anak yang aktif dalam gerakan literasi, mengembangkan program “Bersih, Sehat, dan Rapi” atau Ibu Berseri. Ia terlibat dalam komunitas Read Aloud Jakarta Barat, yang kerap berkolaborasi dengan pemerintah daerah untuk kegiatan literasi keluarga. Salah satu programnya, "Cerita untuk Janin dan Balita", berkolaborasi dengan Suku Dinas Perpustakaan Jakarta Barat guna memperkenalkan metode membaca nyaring kepada ibu hamil dan orang tua balita sebagai stimulasi perkembangan anak sejak dini.
Kegiatan lain yang dijalankan komunitas tersebut adalah Read Aloud Goes to School, menyasar anak usia dini di sekolah-sekolah dan bertujuan membangun kebiasaan membaca sejak kecil melalui kegiatan baca buku yang interaktif. Program ini juga kerap dikaitkan dengan tema lingkungan dan energi bersih agar anak-anak mengenal isu keberlanjutan sejak dini.
Berbekal jaringan literasi tersebut, Heni memperluas gerakannya ke isu lingkungan. Ia mendorong keluarga di lingkungannya untuk memilah sampah rumah tangga dan bekerja sama dengan Suku Dinas Lingkungan Hidup. Edukasi yang ia lakukan tidak hanya melalui pertemuan langsung, tetapi juga lewat media sosial, sehingga semakin banyak keluarga mulai menerapkan kebiasaan pengelolaan sampah dari rumah.
Sementara itu, Ajeng Satiti bergerak dari keresahan berbeda, tetapi dengan semangat serupa. Ia merupakan penggagas Sekolah Cinta Anak Indonesia (Sekoci), yang berawal dari Sekolah Kolong Cikini pada tahun 2015 untuk membantu anak-anak termarjinalkan mendapatkan akses pendidikan. Gerakan yang kecil tersebut kemudian terus bergerak menjadi yayasan yang fokus mengangkat derajat anak-anak kurang mampu untuk mendapatkan akses setara di bidang pendidikan.
Pengalaman Ajeng mendampingi anak-anak marginal membuatnya melihat langsung dampak lingkungan terhadap kualitas hidup keluarga. Dari situ, ia menginisiasi reaktivasi Bank Sampah Melati Bersih di Villa Pamulang. Ia mengajak ibu-ibu PKK mengelola sampah plastik rumah tangga dan mengubahnya menjadi kegiatan ekonomi komunitas. Pendekatan pendidikan yang ia bangun melalui Sekoci memperkuat perubahan perilaku, karena kesadaran lingkungan ditanamkan bersamaan dengan kegiatan belajar anak-anak.
Sementara itu, Dewi Indriyani menyoroti aspek lain dari krisis iklim, yakni risiko bencana. Melalui Eco Creators Community, ia menjalankan program "Keluarga Siaga Tanggap Bencana". Dewi mengedukasi keluarga tentang rencana darurat, tas siaga, hingga ketahanan pangan saat bencana. Kampanye yang ia lakukan melalui pelatihan dan media sosial membantu keluarga memahami langkah konkret menghadapi situasi darurat, mulai dari pertolongan pertama hingga pengelolaan air pascabencana.
Dewi membangun jaringan kreator konten keberlanjutan untuk menyebarkan edukasi praktis tentang gaya hidup tangguh menghadapi krisis. Komunitas ini tidak hanya berbagi konten, tetapi juga mengembangkan platform edukasi rumah tangga berkelanjutan dan ketahanan keluarga terhadap dampak perubahan iklim.
Salah satu gerakan yang ia dorong adalah pemanfaatan limbah organik melalui kampanye eco enzyme. Melalui pelatihan dan kampanye media sosial, Dewi mengajak perempuan mengolah sisa dapur menjadi cairan serbaguna yang dapat digunakan untuk kebersihan lingkungan, pengolahan limbah, hingga mendukung ketahanan pangan skala rumah tangga.
Inisiatif tersebut ia lakukan untuk mengurangi timbunan sampah organik yang berpotensi memicu kebakaran atau masalah lingkungan lain di sekitar permukiman. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari strategi mitigasi bencana berbasis keluarga. Dengan mengurangi sampah organik, meningkatkan ketahanan pangan, serta memperkuat literasi lingkungan, Dewi mendorong masyarakat agar lebih siap menghadapi kondisi darurat seperti banjir, krisis air, maupun gangguan distribusi logistik.
Gerakan Dewi memperlihatkan bahwa mitigasi bencana tidak selalu dimulai dari skala besar. Dari dapur rumah, pengelolaan sampah, hingga edukasi kesiapsiagaan keluarga, ia menempatkan perempuan sebagai garda depan dalam membangun ketahanan komunitas terhadap krisis iklim.
Perempuan penggerak
Gerakan akar rumput ini mendapat penguatan dari aktivis lingkungan yang telah lama berkecimpung dalam advokasi kebijakan. Wakil Ketua Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah Hening Parlan menekankan bahwa perempuan tidak perlu tergesa-gesa dalam bergerak. Menurut dia, perubahan berkelanjutan lahir dari proses yang matang.
"Perempuan perlu selesai dengan dirinya sendiri sebelum melangkah ke meja kebijakan. Kita juga perlu mencatat kemenangan-kemenangan kecil, misalnya berhasil memilah sampah atau mengedukasi tetangga sebagai bahan bakar semangat," kata Hening.
Pendekatan Hening menempatkan perubahan personal sebagai fondasi gerakan lingkungan. Ia melihat ruang domestik yakni dapur, pakaian, hingga konsumsi keluarga sebagai titik awal transformasi. Dari kebiasaan kecil itu, suara perempuan dapat berkembang menjadi dorongan kebijakan publik.
Pandangan tersebut sejalan dengan pendapat dari Direktur The Climate Reality Project Indonesia Amanda Katili. Ia menekankan bahwa krisis iklim harus diterjemahkan ke dalam bahasa keseharian keluarga. Ketika ibu memahami dampak polusi, mikroplastik, atau cuaca ekstrem, mereka akan mengubah keputusan sehari-hari, mulai dari konsumsi hingga pola asuh. Perubahan kolektif inilah yang dapat menciptakan dampak sistemik.
Di tengah krisis iklim yang semakin nyata, perempuan membuktikan bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari proyek besar. Dari memilah sampah, menghidupkan bank sampah, hingga menyiapkan keluarga tanggap bencana, langkah sederhana ini menjadi fondasi masa depan yang lebih tangguh. Ketika perempuan bergerak dari ruang domestik menuju ruang publik, perubahan dapat menemukan jalannya secara perlahan, tetapi pasti.
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·