IDAI: Beri informasi positif untuk edukasi kelompok antivax

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Sebagian menolak, sebagian menerima tapi mau menunda seperti misalnya vaksin MR, kalau anaknya belum bisa bicara tunda dulu. Jadi ini yang yang bisa dipengaruhi oleh antivax tadi

Jakarta (ANTARA) - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengatakan untuk menghadapi kelompok antivaksin atau antivax sebaiknya dengan mengedepankan informasi-informasi positif yang menjelaskan tentang bahayanya dampak sebuah penyakit apabila tidak vaksin.

"Karena penerimaan vaksin oleh seseorang itu dipengaruhi oleh persepsi terhadap beratnya penyakit itu. Kalau penyakitnya ringan, apalah gunanya nih vaksin. Tapi kalau kita sampaikan bahwa penyakit ini bisa mengakibatkan komplikasi macam-macam dan menyebabkan kematian mereka akan berpikir kembali," kata Ketua Satgas Imunisasi IDAI Hartono Gunardi ​​​​​​di Jakarta, Kamis.

Dalam konsep keraguan vaksin (vaccine hesitancy), katanya, terdapat dua kubu. Pertama, kelompok yang menerima vaksin tanpa pertanyaan apapun, yang kedua adalah kelompok yang menolak semua vaksin apapun alasannya.

"Diantaranya ini yang ragu. Sebagian menolak, sebagian menerima tapi mau menunda seperti misalnya vaksin MR, kalau anaknya belum bisa bicara tunda dulu. Jadi ini yang yang bisa dipengaruhi oleh antivax tadi," kata Hartono.

Baca juga: Epidemiolog serukan edukasi masif tentang manfaat vaksin untuk mencegah penolakan vaksinasi

Dalam kesempatan itu dia menjelaskan bahayanya apabila anak tidak imunisasi sama sekali atau zero dose. Menurutnya, hal itu seperti bermain api.

"Zero dose children adalah anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi sama sekali. Batasan operasionalnya adalah yang belum mendapatkan vaksin DTP yang dosis pertama. Bahayanya apa? Kita hidup berdekatan dengan Kejadian Luar Biasa (KLB)," katanya.

Terlebih, katanya, kalau anak-anak zero dose itu di tempat-tempat yang mayoritas anak lainnya juga belum imunisasi. Risiko penularan infeksi dari satu anak ke yang lainnya semakin tinggi.

Oleh karena itu dia menyoroti pentingnya peran media massa serta pemengaruh dalam mengedukasi publik.

Baca juga: IDAI: Sinergikan ilmu dan iman guna lindungi anak dengan imunisasi

Kepala Desk Humaniora Harian Kompas Evy Rachmawati mengatakan sebagai jurnalis perlu menyampaikan berita seefisien mungkin dan memperhatikan format peliputan, karena menyesuaikan dengan audiens yang perhatiannya kini semakin terbatas.

Kemudian, kata Evy, sertakan narasi yang positif, misalnya testimoni orang yang anaknya divaksin terkait tumbuh kembang anaknya yang optimal.

"Nah itu sebuah narasi yang positif, narasi yang kemudian-kemudian menggugah. Kadang orang juga suka ditakut-takutin, misalnya ada dampaknya," kata Evy.

Senada aktris Maudy Koesnaedi mengatakan jika orang tua ragu terkait imunisasi bagi anak, ada baiknya untuk menambah ilmunya, karena kesehatan anak adalah tanggung jawab orang tua baik terhadap anak itu sendiri dan lingkungan sekitar.

"Kesehatan anak kita juga akan menjadi sebuah modal untuk membangun negara kita. Kuncinya pembangunan negara itu jadilah orang tua yang memberikan keputusan yang tepat supaya anaknya sehat, lahir batin," kata Maudy.

Baca juga: Guru Besar FKUI: Imunisasi ganda lindungi anak dari beberapa penyakit

Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.