Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat hingga anjlok ke level 7.400-an pada perdagangan sesi I hari Kamis (23/4/2026). Penurunan signifikan ini terjadi bersamaan dengan merosotnya nilai tukar rupiah yang menyentuh level terburuk di angka Rp17.300 per dolar AS.
Kondisi pasar modal Indonesia tersebut dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global, terutama meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz. Situasi di kawasan tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas pasokan energi dan keamanan jalur perdagangan internasional.
Selain faktor keamanan di Timur Tengah, kegagalan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran turut memperburuk sentimen pasar. Pertemuan yang difasilitasi oleh Pakistan tersebut tidak membuahkan hasil karena pihak Iran memilih untuk tidak hadir dalam perundingan.
Pengamat ekonomi mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa kegagalan perundingan tersebut menjadi faktor eksternal utama yang menekan mata uang Garuda. AS dinilai telah melanggar kesepakatan gencatan senjata melalui aksi penangkapan yang memicu ketegangan baru.
"Salah satu penyebabnya, pertama adalah masalah eksternal, dimana pertemuan di minggu ini antara AS dan Iran yang difasilitasi Pakistan gagal. Iran tidak ikut dalam perundingan tersebut karena AS sudah menyalahi aturan dalam gencatan senjata dengan melakukan penangkapan terhadap ..." kata Ibrahim Assuaibi, Pengamat Ekonomi Mata Uang.
Hingga penutupan perdagangan sesi pertama, pasar saham dalam negeri masih berada dalam zona merah. Pelaku pasar terus memantau perkembangan situasi di Selat Hormuz dan dampaknya terhadap pergerakan indeks serta nilai tukar rupiah lebih lanjut.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·