IHSG Melemah 0,65% di Pembukaan Hari Ini Akibat Geopolitik Global

Sedang Trending 5 hari yang lalu

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan hari ini, Senin (13/4/2026), dengan pelemahan signifikan. Pada pukul 09.01 WIB, indeks tercatat kehilangan 48,41 poin atau setara dengan penurunan 0,65%, bertengger di level 7.410.

Pelemahan ini terjadi setelah negosiasi nuklir antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Pakistan berakhir tanpa kesepakatan, memicu sentimen negatif di pasar global. Konflik Israel–Hizbullah di Lebanon Selatan yang meningkat turut memperburuk kondisi, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia, volume transaksi mencapai 2,67 miliar saham dengan nilai Rp1,25 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 200.299 kali.

Secara rinci, 160 saham berhasil menguat, sementara mayoritas yakni 381 saham melemah. Sebanyak 166 saham lainnya tidak menunjukkan pergerakan berarti.

Analis dari BRI Danareksa Sekuritas menyebut bahwa IHSG berpotensi terkoreksi di awal pekan. Hal ini seiring dengan penegasan Wakil Presiden AS, JD Vance, bahwa Iran belum berkomitmen untuk menghentikan pengayaan uranium.

"Secara teknikal, IHSG yang berada di resistance psikologis 7.500 berpotensi mengalami profit taking setelah rebound sepekan terakhir," papar BRI Danareksa, memprediksi tekanan jual.

Senada, Phintraco Sekuritas menyoroti perkembangan gencatan senjata AS-Iran sebagai fokus utama pasar global. Kegagalan mencapai kesepakatan di Islamabad membahayakan gencatan senjata dua pekan yang rentan.

Delegasi AS menyatakan Iran tidak menerima persyaratan untuk tidak mengupayakan senjata nuklir. Media Iran melaporkan adanya perbedaan mengenai penarikan material nuklir dan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Di tengah perundingan yang macet, sejumlah kapal tanker pengangkut minyak mentah mulai melintasi Selat Hormuz. Mantan Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana Angkatan Laut AS untuk memblokade selat tersebut dan mencegat kapal yang membayar biaya penyeberangan ke Iran.

"Secara teknikal, IHSG diperkirakan berpeluang menguji level 7.500–7.600," kata Phintraco Sekuritas.

Sementara itu, CGS International Sekuritas Indonesia memaparkan bahwa pelemahan mayoritas Bursa Wall Street dan rencana AS memblokade Selat Hormuz menjadi sentimen negatif bagi IHSG. CGS International Sekuritas memprediksi IHSG akan bergerak melemah dengan kisaran support 7.325–7.190 dan resistance 7.590–7.725.

Panin Sekuritas juga memproyeksikan IHSG berpotensi melemah. Hal ini didorong oleh tensi geopolitik yang kembali meningkat, harga minyak yang kembali menyentuh di atas US$100 per barel, serta kenaikan yield obligasi AS yang mengindikasikan peningkatan premi risiko.

"Untuk hari ini kami memperkirakan IHSG akan melemah," mengutip riset harian Panin Sekuritas. Situasi ini meningkatkan persepsi risiko investor, khususnya di pasar negara berkembang seperti Indonesia, yang cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko seperti saham dan beralih ke aset safe haven.

Analis pasar modal Hendra Wardana dari Republik Investor menambahkan, pergerakan IHSG yang volatil mencerminkan fase trading range. Investor disarankan untuk selektif dan disiplin dalam manajemen risiko, dengan strategi buy on weakness dan menjaga proporsi kas yang cukup di tengah ketidakpastian.

Beberapa sekuritas telah merekomendasikan saham pilihan mereka untuk perdagangan hari ini. BRI Danareksa Sekuritas memilih EMTK, JPFA, dan PADI. Phintraco Sekuritas merekomendasikan BBCA, BBRI, MYOR, ISAT, EXCL, dan BRIS.

CGS International Sekuritas Indonesia menyarankan saham ADRO, JPFA, BBRI, ASII, ERAA, dan AKRA. Sementara itu, Panin Sekuritas memilih ACES, CMRY, dan SILO.

Pergerakan IHSG ke depan akan terus dipengaruhi oleh dinamika geopolitik di Timur Tengah dan potensi peningkatan risiko global, serta hasil peninjauan indeks MSCI pada 12 Mei 2026 mendatang yang akan menjadi penentu arah aliran dana asing.