Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan sebesar 1,98 persen ke posisi 6.723,32 pada penutupan perdagangan Rabu (13/5/2026). Pelemahan ini terjadi setelah lembaga Morgan Stanley Capital International (MSCI) secara resmi mengeluarkan 18 emiten asal Indonesia dari daftar indeks globalnya, sebagaimana dilansir dari Detik Finance.
Kondisi pasar modal domestik tertekan oleh aksi jual masif investor asing, terutama pada saham-sebab kategori blue chip yang selama ini menjadi penyokong indeks. Pengeluaran saham dari MSCI Global Standard Index dinilai mengurangi minat pemodal internasional yang menggunakan indeks tersebut sebagai panduan investasi utama di Indonesia.
| BREN | PT Barito Renewables Energy Tbk | 11,36% | 3.200 |
| DSSA | PT Dian Swastatika Sentosa Tbk | 11,16% | 1.035 |
| CUAN | PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk | 10,05% | 850 |
| AMMN | PT Amman Mineral Internasional Tbk | 9,09% | 3.700 |
| TPIA | PT Chandra Asri Pacific Tbk | 14,85% | 4.300 |
Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa pengumuman tersebut menjadi sentimen negatif karena perubahan status daya tarik aset di mata asing.
"Adapun pengumuman ini menjadi sentimen negatif bagi IHSG sebab saham-saham yang dihapus ini kemungkinan besar akan kehilangan daya tarik di mata investor asing yang hanya berpatokan pada indeks MSCI," ujar Nafan Aji Gusta.
MSCI sendiri merupakan penyedia indeks asal Amerika Serikat yang mengelola total Asset Under Management (AUM) sekitar US$ 21 triliun. Lembaga ini berfungsi memberikan analisis risiko dan peluang bagi pelaku keuangan di seluruh dunia melalui standarisasi parameter investasi.
Praktisi Pasar Modal, Hans Kwee, menyatakan bahwa penurunan kali ini cenderung lebih terkendali dibandingkan reaksi pasar pada Januari 2026 lalu. Ia menyebut para manajer investasi telah melakukan langkah antisipasi terhadap perubahan metodologi tersebut.
"Perlu dipahami bahwa penghapusan (deletion) sejumlah emiten dari indeks ini lebih bersifat teknikal terkait metodologi bobot dan likuiditas, bukan serta-merta mencerminkan kerusakan fundamental pada perusahaan tersebut," ungkap Hans Kwee.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan tidak ditemukan indikasi kepanikan pasar meski terjadi tekanan jual pada saham-saham tertentu. OJK bersama Self Regulatory Organization (SRO) terus memantau stabilitas transaksi pasca rebalancing indeks tersebut.
"Kemudian tadi frekuensi dan volume serta nilai transaksi juga cukup baik. Secara rata-rata tidak ada perbedaan, normal dibandingkan hari-hari sebelumnya. Jadi ini juga menunjukkan tidak adanya upaya panic selling atau reaksi satu arah berupa arus, katakanlah upaya menjual saham-saham tanpa diimbangi kekuatan pembelian," ungkap Hasan Fawzi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK.
Hasan menekankan bahwa koreksi indeks pada pembukaan perdagangan merupakan bagian dari proses reformasi pasar modal. Pihak otoritas menilai fluktuasi harga masih berada dalam rentang kewajaran industri.
"Alhamdulillah per hari ini rasanya tingkat penurunannya tidak signifikan," jelas Hasan Fawzi.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·