Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan signifikan sebesar 1,55 persen ke level 6.861 pada pembukaan perdagangan Senin (11/5/2026). Penurunan sebesar 108,09 poin ini dipicu oleh rencana Pemerintah Indonesia untuk mengubah sistem bagi hasil dan menaikkan tarif royalti progresif di sektor pertambangan mineral dan batu bara.
Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan volume perdagangan mencapai 4,5 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp2 triliun melalui 325.215 kali frekuensi transaksi sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz. Tercatat sebanyak 423 saham melemah, berbanding terbalik dengan 142 saham yang menguat dan 149 saham stagnan.
BRI Danareksa Sekuritas mengidentifikasi bahwa tekanan pada indeks berasal dari rencana revisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2025 terkait sistem bagi hasil industri minerba yang menyerupai sektor migas. Kebijakan ini menyebabkan kejatuhan harga saham emiten komoditas, meskipun cadangan devisa Indonesia per April 2026 tetap kokoh di angka US$146,2 miliar.
“Secara teknikal, IHSG akan menguji level support pentingnya pada 6.900–6.920. Pasar akan terus mencermati perkembangan isu kenaikan royalti mineral sembari menunggu beberapa rilis data penting seperti consumer confidence Indonesia dan pengumuman rebalancing MSCI di 12 Mei 2026,” mengutip riset BRI Danareksa Sekuritas.
Phintraco Sekuritas menambahkan bahwa rencana kenaikan tarif royalti progresif untuk nikel, tembaga, emas, perak, dan timah menjadi beban bagi sektor material dasar. Selain faktor domestik, ketidakpastian politik di tingkat global turut membayangi gerak pasar modal pekan ini.
“Ketegangan geopolitik di Timur Tengah akan tetap menjadi fokus pasar global di tengah gencatan senjata AS-Iran yang rentan,” mengutip paparan Phintraco.
Analis dari CGS International Sekuritas Indonesia menyoroti berlanjutnya aksi jual oleh investor asing sebagai sentimen negatif tambahan. Penolakan Donald Trump terhadap proposal Iran dianggap memperkeruh suasana pasar global yang sedang menanti tinjauan kuartalan MSCI.
“IHSG diprediksi akan melanjutkan pelemahannya dengan kisaran support 6.875–6.780 dan resistance 7.065–7.160,” tulis riset CGS International.
Panin Sekuritas memproyeksikan tren pelemahan akan berlanjut karena belum adanya tanda-tanda aliran modal asing masuk (inflow) ke pasar reguler. Melemahnya nilai tukar rupiah dan kebijakan tarif royalti baru dari Kementerian ESDM menjadi faktor utama yang menekan indeks ke zona merah.
“Selanjutnya support terdekat berada di range 6.877–6.917. Jika area ini ditembus, ada kemungkinan IHSG melanjutkan pelemahan menuju next support : 6.579–6.684,” mengutip Panin Sekuritas.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·