IHSG Rebound 6,14 Persen, Tensi Geopolitik Global Mereda Jadi Pemicu

Sedang Trending 5 hari yang lalu

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat kenaikan signifikan 6,14 persen sepanjang periode perdagangan 6-10 April 2026. Penguatan ini menjadi pembalikan arah setelah tekanan pada pekan sebelumnya, seperti dilansir dari Money pada Senin (13/4/2026).

Kenaikan indeks didorong oleh meredanya tensi geopolitik global. Hal ini menyusul kesepakatan gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran selama dua minggu, serta dibukanya kembali jalur strategis Selat Hormuz.

Hari Rachmansyah, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), mengatakan bahwa kondisi ini menjadi katalis utama perbaikan sentimen risiko di pasar global. Namun, partisipasi investor asing masih cenderung berhati-hati.

Kewaspadaan investor asing terlihat dari adanya aliran dana keluar atau net sell sebesar Rp 3,3 triliun di pasar reguler selama periode tersebut. Oleh karena itu, penguatan IHSG lebih banyak ditopang oleh aliran dana domestik dan rotasi pada saham-saham berkapitalisasi besar.

Penguatan indeks secara sektoral didorong oleh rally signifikan saham-saham big caps. Beberapa di antaranya adalah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA).

Kenaikan saham-saham tersebut turut meningkatkan risk appetite investor domestik dan memicu penguatan lanjutan pada saham lainnya. Hari menambahkan, “Secara keseluruhan, pergerakan IHSG dalam sepekan terakhir mencerminkan pergeseran sentimen menuju risk-on, meski masih dibayangi kehati-hatian investor asing.

“Ke depan, keberlanjutan tren ini sangat bergantung pada stabilitas geopolitik global serta konsistensi aliran dana domestik,” ujar Hari.

Untuk perdagangan sepekan ke depan, yakni periode 13-17 April 2026, Hari mengimbau investor untuk mencermati sejumlah sentimen global dan domestik yang berpotensi memengaruhi pasar.

Dari sisi global, indeks utama Wall Street seperti S&P 500, Dow Jones Industrial Average, dan Nasdaq Composite berpotensi kembali tertekan. Ini seiring kegagalan negosiasi terbaru antara Amerika Serikat dan Iran.

Situasi ini memperpanjang ketidakpastian geopolitik dan meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan distribusi energi global. Terutama di kawasan Timur Tengah dan jalur strategis Selat Hormuz.

Tanpa adanya kesepakatan, pasar mengantisipasi potensi pengetatan suplai yang dapat menjaga harga energi tetap tinggi. Kondisi ini dapat menahan penurunan inflasi global dan membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter.

Di sisi lain, ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve kembali cenderung hawkish, seiring risiko inflasi berbasis energi yang masih tinggi. Hal ini berpotensi menjaga imbal hasil obligasi AS tetap tinggi dan menekan aset berisiko, khususnya saham berbasis pertumbuhan.

Secara keseluruhan, kondisi tersebut mendorong investor global kembali bersikap risk-off dalam jangka pendek. Potensi rotasi ke aset safe haven seperti dolar AS dan komoditas energi pun meningkat. Volatilitas pasar juga diperkirakan tetap tinggi dalam sepekan ke depan.

Sementara itu, dari dalam negeri, pasar akan dipengaruhi oleh dua katalis utama. Katalis tersebut adalah potensi penyesuaian harga BBM non-subsidi dan langkah stabilisasi nilai tukar rupiah yang saat ini berada di kisaran Rp 17.000 per dolar AS.

Kebijakan penyesuaian harga energi berpotensi memicu tekanan inflasi jangka pendek, sementara stabilisasi rupiah menjadi krusial untuk menahan risiko inflasi impor dan arus keluar dana asing.

Menurut Hari, kombinasi kebijakan tersebut mencerminkan langkah antisipatif pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi, meski pasar kemungkinan masih akan merespons secara hati-hati dalam jangka pendek.

Dari sisi pergerakan, IHSG diperkirakan cenderung bergerak beragam dengan kecenderungan konsolidatif, seiring kombinasi sentimen yang beragam. Sektor energi diperkirakan tetap menjadi motor penggerak, didukung ekspektasi harga komoditas yang masih tinggi.

Sektor transportasi laut juga berpotensi melanjutkan penguatan. Dalam kondisi ini, investor disarankan untuk tetap selektif dengan pendekatan trading-oriented serta disiplin dalam manajemen risiko, mengingat volatilitas pasar masih tinggi dan perubahan sentimen dapat terjadi dengan cepat.