Indeks MSCI Depak Enam Saham RI dari Global Standard Indexes

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengeluarkan enam saham berkapitalisasi besar asal Indonesia dari MSCI Global Standard Indexes dalam rebalancing periode Mei 2026. Keputusan ini memicu tekanan jual pada perdagangan Rabu (13/4/2026) hingga menekan pergerakan pasar saham domestik.

Dilansir dari Money, emiten yang keluar dari indeks tersebut adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). Selain itu, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), serta PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) juga didepak.

Khusus untuk saham AMRT, meskipun keluar dari jajaran Global Standard, emiten ritel ini dipindahkan ke dalam MSCI Small Cap Indexes. Perubahan komposisi ini berdampak pada arus modal karena indeks tersebut menjadi acuan utama bagi pengelola dana global dan dana indeks pasif di seluruh dunia.

Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menjelaskan bahwa pengeluaran saham dari indeks MSCI mewajibkan investor institusi asing untuk menjual kepemilikannya. Langkah tersebut dilakukan agar portofolio investasi mereka tetap selaras dengan komposisi indeks terbaru yang ditetapkan.

“Inilah yang kemudian memicu tekanan jual asing dan memperbesar volatilitas pasar domestik,” ujar Hendra, Rabu malam.

Hendra menambahkan bahwa kondisi pasar saat ini relatif lebih terkendali dibandingkan periode rebalancing pada Januari 2026 yang sempat memicu penghentian perdagangan sementara atau trading halt. Hal ini disebabkan oleh pelaku pasar yang sudah mengantisipasi keputusan tersebut sejak beberapa pekan sebelumnya.

“Karena itu, sebagian pelaku pasar sudah melakukan repricing lebih awal sehingga efek kejutnya tidak sebesar sebelumnya,” paparnya.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan aksi jual bersih (net sell) investor asing mencapai Rp1,34 triliun pada perdagangan Rabu. Sejak awal Januari hingga 12 Mei 2026, total akumulasi aksi jual asing di pasar saham Indonesia telah menyentuh angka Rp50,63 triliun.

Saham perbankan besar menjadi sasaran utama aksi jual, dengan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatat net sell tertinggi sebesar Rp274 miliar. Hendra menilai angka tersebut menunjukkan kecenderungan investor global untuk mengurangi paparan di pasar negara berkembang atau emerging markets.

“Perlu dipahami bahwa tekanan ini umumnya bersifat jangka pendek dan teknikal,” beber Hendra.

Tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti inflasi Amerika Serikat yang tetap tinggi dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kondisi ini menyebabkan rupiah melemah hingga mendekati level Rp17.500 per dollar AS pada penutupan perdagangan Rabu.

“Investor akhirnya mulai khawatir terhadap stabilitas fiskal, daya beli masyarakat, hingga potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi domestik ke depan,” tukas Hendra.

Sebagai langkah antisipasi, investor disarankan untuk tetap disiplin dalam manajemen risiko dan melakukan seleksi ketat terhadap emiten yang memiliki fundamental kuat. Hendra mengingatkan bahwa volatilitas tinggi kemungkinan masih akan berlangsung hingga akhir Mei 2026 saat proses rebalancing mencapai tanggal efektif.

“Investor jangka pendek sebaiknya menjaga disiplin manajemen risiko dan menghindari penggunaan margin berlebihan karena volatilitas pasar masih sangat tinggi,” lanjut dia.

Daftar Saham Terkena Dampak Rebalancing MSCI Mei 2026Kode SahamNama EmitenStatus Terbaru
AMMNPT Amman Mineral Internasional TbkKeluar dari Global Standard Indexes
BRENPT Barito Renewables Energy TbkKeluar dari Global Standard Indexes
TPIAPT Chandra Asri Pacific TbkKeluar dari Global Standard Indexes
DSSAPT Dian Swastatika Sentosa TbkKeluar dari Global Standard Indexes
CUANPT Petrindo Jaya Kreasi TbkKeluar dari Global Standard Indexes
AMRTPT Sumber Alfaria Trijaya TbkPindah ke Small Cap Indexes