Indeks Nikkei 225 Melonjak 4 Persen Pasca Libur Panjang

Sedang Trending 6 hari yang lalu

Pasar modal Jepang mencatatkan kenaikan signifikan pada pembukaan perdagangan Kamis, 7 Mei 2026, setelah para pemodal melakukan aksi beli masif pasca libur panjang. Penguatan ini dipicu oleh reli ekuitas global dan meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.

Indeks Nikkei 225 yang menjadi acuan utama melesat hingga 4 persen ke posisi 61.902,23, sementara indeks Topix turut menguat 2,1 persen ke level 3.806,81 sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz. Performa positif ini didukung oleh stabilnya harga komoditas minyak setelah sempat merosot 7 persen pada sesi perdagangan sebelumnya.

Kenaikan tajam di bursa Tokyo merupakan kelanjutan dari tren penguatan bulan lalu, di mana Nikkei berhasil menembus level psikologis 60.000. Ahli strategi senior di Nomura Securities, Takashi Ito, memberikan analisis mengenai prospek sektor unggulan yang mendorong pertumbuhan pasar tersebut.

"Saham Jepang diperkirakan akan terus naik, dipimpin oleh sektor semikonduktor dan serat optik, di tengah kuatnya pasar luar negeri," ujar Takashi Ito, ahli strategi senior di Nomura Securities.

Ito menambahkan bahwa penurunan beban biaya energi menjadi katalis positif bagi fundamental perusahaan-perusahaan di Jepang saat ini.

"Penurunan harga minyak sangat berarti bagi perusahaan, karena pelonggaran inflasi meskipun tipis dapat memberikan kelegaan yang signifikan bagi mereka," ujar Takashi Ito, ahli strategi senior di Nomura Securities.

Optimisme pasar juga bersumber dari laporan nota kesepahaman (MoU) antara Washington dan Iran untuk pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap. Di sektor teknologi, saham Advanced Micro Devices Inc. (AMD) yang melampaui ekspektasi di AS memberikan sentimen positif bagi emiten serupa di Tokyo seperti Renesas Electronics Corp dan Ibiden Co.

Meskipun pasar saham bergairah, nilai tukar yen yang menguat 1,8 persen terhadap dolar AS pada hari Rabu menjadi perhatian khusus bagi sektor ekspor. Penguatan mata uang tersebut memicu munculnya spekulasi di kalangan pelaku pasar mengenai potensi intervensi lanjutan oleh otoritas moneter Jepang.