Pemerintah India secara resmi menarik diri dari pencalonan sebagai tuan rumah Konferensi Perubahan Iklim PBB atau COP33 tahun 2028 melalui surat singkat tertanggal 2 April 2026. Keputusan ini membatalkan ambisi yang sebelumnya dinyatakan Perdana Menteri Narendra Modi pada KTT Iklim Dubai Desember 2023 untuk memimpin dialog iklim global.
Langkah mengejutkan ini pertama kali diungkap oleh laporan Climate Home News dan dilansir dari Detikcom. Pembatalan tersebut terjadi hanya 18 bulan setelah India mendapatkan dukungan dari kelompok BRICS untuk mewakili kawasan Asia-Pasifik dalam forum tahunan yang mempertemukan 198 pihak tersebut.
Para analis kebijakan menilai mundurnya India dipicu oleh pergeseran prioritas domestik dan melemahnya konsensus iklim global. Status COP dianggap menurun di tengah ketidakstabilan global, terutama setelah Amerika Serikat menarik diri dari Perjanjian Paris untuk kedua kalinya di bawah pemerintahan Trump.
"Salah satu alasan utama penarikan diri India tampaknya adalah relevansi COP yang terus menurun dalam mendorong tindakan iklim global yang berarti," kata Chandra Bhushan, kepala International Forum for Environment, Sustainability and Technology yang berbasis di Delhi.
Chandra Bhushan menambahkan bahwa hilangnya kepercayaan antarnegara pada KTT Belem di Brasil menjadi titik balik bagi posisi India. Minimnya keterlibatan politik tingkat tinggi dari negara-negara maju membuat komitmen pendanaan iklim global menjadi tidak pasti.
Abinash Mohanty, kepala sektor global perubahan iklim di IPE Global, menyebut langkah India sebagai tindakan pragmatis. Ia menyoroti kegagalan negara maju dalam memenuhi janji pendanaan iklim sebesar 100 miliar dolar AS per tahun yang telah disepakati sejak 2020.
Secara internal, India sebenarnya mencatatkan kinerja iklim yang kuat dengan kapasitas energi terbarukan mencapai 200 Gigawatt dan penurunan intensitas emisi lebih dari sepertiga sejak 2005. Sebagian besar pencapaian ini didanai melalui sumber daya domestik, bukan bantuan eksternal.
Menjadi tuan rumah COP33 dianggap akan membebani modal politik dan finansial India tanpa jaminan hasil yang adil bagi negara berkembang atau Global South. Selain itu, posisi tuan rumah akan menempatkan ketergantungan India pada batu bara di bawah pengawasan ketat internasional menjelang pemilihan umum 2029.
India kini dilaporkan mengubah strategi diplomasi iklimnya dengan lebih fokus pada platform yang dapat mereka bentuk langsung. Fokus tersebut dialihkan pada penguatan Aliansi Surya Internasional serta koalisi serupa yang dianggap lebih memberikan keuntungan nyata bagi kepentingan nasional.
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·