Indonesia Izinkan AS Angkut Sisa Jenazah Prajurit Perang Dunia II

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Pemerintah Indonesia mengizinkan Amerika Serikat (AS) mencari serta membawa pulang sisa jenazah prajuritnya dari Pulau Morotai, Maluku Utara, yang menjadi poin kesepakatan dalam pertemuan antara Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dan Menhan AS Pete Hegseth pada April 2026.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Sjafrie Sjamsoeddin saat menghadiri rapat kerja bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Selasa (19/05/2026), sebagaimana dilansir dari Bloomberg Technoz. Langkah pemulangan ini didasari atas keinginan pemerintah AS untuk memberikan penghormatan kepada para tentaranya yang gugur pada masa Perang Dunia II.

Dalam pertemuan bilateral tersebut, pihak AS mengaku memiliki data digital yang lengkap terkait titik-titik pemakaman di Pulau Morotai. Ketersediaan data digital itu menjawab keraguan awal dari pihak Indonesia yang sebelumnya tidak memiliki catatan resmi mengenai keberadaan makam-makam prajurit sekutu di wilayah tersebut.

"[Pete mengatakan] 'pertanyaannya bisa atau enggak?'. Lalu saya bilang, 'jangankan bisa, dibantu [oleh Indonesia] pun bisa'," ujar Menhan Sjafrie Sjamsoeddin.

Seluruh biaya operasional proses pencarian hingga pemulangan ini akan ditanggung penuh oleh pemerintah AS. Di sisi lain, pihak Amerika Serikat juga berkomitmen untuk tetap menghormati kedaulatan wilayah Indonesia selama misi kemanusiaan tersebut berlangsung.

"Ini hanya berlaku lima tahun. Setelah itu selesai," kata Sjafrie Sjamsoeddin.

Secara historis, Pulau Morotai memegang peran krusial sebagai pangkalan militer utama pasukan Sekutu di Asia Tenggara pada era Perang Dunia II. Wilayah ini dahulu menjadi basis pertahanan penting di bawah komando Jenderal Douglas MacArthur guna merebut kembali Filipina dari pendudukan Jepang.

Hingga saat ini, jejak-jejak pangkalan militer seperti pelabuhan, bungker senjata, fasilitas angkatan laut, dan pangkalan udara masih bertahan serta menjadi objek wisata. Meski beberapa titik makam teridentifikasi, sebagian area pemakaman tentara sekutu lainnya kini telah tertutup oleh perubahan bentang alam di Pulau Morotai.