Industri Makanan Minuman Sesuaikan Harga Akibat Pelemahan Rupiah

Sedang Trending 56 menit yang lalu

Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (Gapmmi) menyatakan sektor industri kini menghadapi kesulitan besar dalam menetapkan harga jual produk seiring dengan tren pelemahan nilai tukar rupiah. Penyesuaian harga tetap dilakukan meskipun kondisi daya beli konsumen masih dalam tahap pemulihan, sebagaimana dilansir dari Money.

Ketua Umum Gapmmi, Adhi S. Lukman, mengungkapkan bahwa kenaikan harga bahan baku dan biaya kemasan saat ini menjadi beban berat bagi produsen. Keputusan untuk menaikkan harga jual diambil secara terbatas agar tidak semakin menekan daya beli masyarakat yang masih rentan.

"Sebagian sudah menyesuaikan harga jual, meskipun tidak bisa besar karena mempertimbangkan daya beli," katanya dikutip dari Kontan, Kamis (14/5/2026).

Apabila langkah penyesuaian harga tidak segera diterapkan, perusahaan dikhawatirkan akan mengalami kerugian finansial yang berujung pada ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK). Margin keuntungan saat ini terus tergerus demi menambal pembengkakan biaya operasional akibat depresiasi mata uang.

"Terpaksa kenaikan bahan baku, kemasan dan lainnya diserap dengan mengurangi margin atau bahkan sampai tidak ada margin," imbuhnya.

Hingga saat ini, pelaku industri masih menaruh harapan pada penguatan kembali nilai tukar rupiah karena dampaknya yang bersifat sistemik terhadap ekonomi lapisan bawah. Adhi menegaskan bahwa ketidakpastian nilai tukar menjadi kendala utama dalam perencanaan bisnis jangka pendek maupun panjang.

"Ketidakpastian ini yang menjadi masalah. Kita tidak tahu sampai berapa nilai tukar akan terjadi, sehingga sulit menentukan langkah yang akan diambil," ujar Adhi.

Menanggapi situasi tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta publik untuk tetap tenang dan tidak bereaksi berlebihan terhadap fluktuasi rupiah. Ia menegaskan bahwa pemerintah sedang berupaya keras memperbaiki kelemahan ekonomi demi memperkuat pondasi nasional.

"Enggak (perlu panik). Karena pondasi ekonomi kita bagus, we tahu betul kelemahan kita di mana, dan bisa kita betulin," ujar Purbaya dikutip dari Kompas.com, Rabu (13/5/2026).

Kekhawatiran mengenai potensi krisis ekonomi yang menyerupai kejadian tahun 1998 dinilai tidak beralasan mengingat kondisi struktur ekonomi saat ini jauh lebih kokoh. Pemerintah optimis iklim bisnis akan segera kembali stabil sejalan dengan intervensi yang dilakukan otoritas terkait.

"Kita enggak akan sejelek kayak tahun '98 lagi, enggak akan jelek malah. Dengan pondasi ekonomi yang kuat enggak terlalu sulit sebetulnya," jelasnya.

Purbaya meyakini otoritas moneter memiliki kemampuan penuh untuk mengembalikan posisi rupiah ke nilai fundamentalnya yang sesuai. Pemerintah berkomitmen memberikan dukungan terhadap langkah-langkah strategis yang diambil oleh bank sentral.

"Ya itu anda tanya Bank Sentral saja, mereka yang berwenang. Tapi saya yakin mereka bisa kendalikan. Kita akan bantu sedikit-sedikit nanti," imbuh Purbaya.