KA Argo Bromo menabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) sekitar pukul 20.56 WIB. Bagian KRL yang tertabrak adalah gerbong paling belakang yang dikhususkan untuk perempuan. Hal ini sejalan dengan laporan Tim SAR pada Selasa (28/4), yang menyebutkan bahwa seluruh korban yang dievakuasi adalah perempuan.
Dari insiden ini, timbul sebuah pertanyaan: mengapa gerbong khusus perempuan ditempatkan di paling depan dan belakang rangkaian kereta?
Menurut Pengamat Transportasi Kereta Api, Joni Martinus, penempatan gerbong khusus perempuan di bagian paling depan dan belakang rangkaian kereta didasarkan pada pertimbangan tertentu. Salah satunya soal kemudahan akses keluar masuk stasiun.
Penempatan di depan dan belakang rangkaian akan memudahkan akses keluar atau masuk stasiun, khususnya bagi penumpang yang membawa anak atau barang bawaan. Serta memudahkan petugas keamanan untuk memantau kondisi di dalam," ujarnya kepada kumparanWOMAN saat dihubungi pada Selasa (28/4).
Selain itu, adanya gerbong khusus perempuan juga ditujukan untuk memberikan ruang aman dan nyaman kepada perempuan dari potensi tindak pelecehan seksual dan kriminalitas.
Joni juga menjelaskan kalau gerbong khusus perempuan ini merupakan bentuk akomodasi permintaan penumpang perempuan agar tidak berdesakan dengan lawan jenis saat kereta padat.
Penempatan gerbong perempuan sudah dinilai efektif
Senada, pengamat transportasi, Djoko Setijowarno, juga menyatakan bahwa penempatan gerbong khusus perempuan di ujung rangkaian kereta sudah cukup bijak.
"Sebenarnya sudah paling efektif. Jika diletakkan di tengah akan susah dan bingung karena penandanya tidak ada," ujarnya
Menurut Djoko, hal yang perlu dibenahi bukan penempatan gerbong perempuan, melainkan jalur antara KA jarak jauh dan KRL. Keduanya harus dipisah, sebab kecepatan kereta jarak jauh dengan KRL berbeda. Sehingga jalur bisa lebih aman untuk menghindari kecelakaan.
"Untuk kasus kecelakaan kereta (KRL vs KA Argo Bromo Anggrek) di Bekasi Timur, disebabkan oleh perlintasan sebidang. Jadi itu akar permasalahannya,” ujarnya.
Insiden kecelakaan ini berawal dari taksi listrik yang mogok di perlintasan kereta api, sehingga menyebabkan tabrakan oleh Kereta Rel Listrik (KRL). Akibatnya, KRL berikutnya tertahan di stasiun Bekasi Timur. Ketika tengah berhenti, KA Argo Bromo menabraknya dari belakang.
Kondisi gerbong KRL yang ditabrak itu hancur parah. Sementara itu, kecelakaan ini mengakibatkan 14 orang tewas dan 84 orang luka-luka.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·