Jakarta (ANTARA) - Makanan yang dalam keseharian terasa begitu dekat dan mudah didapatkan, mendadak berubah menjadi kemewahan yang langka ketika musim haji tiba di tanah suci.
Situasi ini terasa paling nyata di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Di tiga titik itulah, jamaah berada dalam kondisi paling padat dan paling terbatas aksesnya terhadap fasilitas. Padahal fase itu menjadi ritual utama ibadah haji yakni ketika jamaah melakukan wukuf dan mabit.
Tidak ada dapur pribadi, tidak ada ruang leluasa untuk memanaskan makanan, dan sering kali waktu makan harus menyesuaikan dengan ritme ibadah yang ketat.
Dalam kondisi seperti ini, makanan praktis bukan lagi soal efisiensi, tetapi soal kelayakan bertahan hidup di tengah situasi yang tidak biasa.
Di balik kebutuhan yang tampak sederhana ini, terdapat tantangan besar yang harus dijawab oleh negara.
Bagaimana memastikan makanan tetap tersedia dalam jumlah besar, terjaga kualitasnya, aman dikonsumsi, dan dapat disajikan dengan cara yang sesuai dengan kondisi lapangan.
Kesalahan kecil dalam rantai distribusi dapat berdampak luas, mulai dari gangguan kesehatan hingga terganggunya pelaksanaan ibadah.
Inovasi Teknologi
Dalam rapat koordinasi terbatas yang membahas kesiapan pangan haji 2026, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, memaparkan bahwa salah satu jawaban atas tantangan tersebut adalah pengembangan teknologi makanan siap saji.
Teknologi ini tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan hasil dari pengembangan panjang dalam bidang pengemasan pangan.
Mulai dari makanan kaleng, kemasan fleksibel untuk hidangan berkuah, hingga inovasi terbaru berupa teknologi pemanas tanpa api.
Baca juga: Kemenhaj pastikan kesiapan ekspor bumbu & makanan siap santap ke Saudi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·