Gangguan sinyal geolokasi menyebabkan sekitar 120 kapal terpantau muncul di wilayah daratan sekitar Teluk Persia pada Senin, 11 Mei 2026. Fenomena ini terdeteksi setelah adanya serangan terbaru yang diluncurkan oleh Iran terhadap sejumlah negara tetangganya di kawasan tersebut.
Data pelacakan kapal menunjukkan sekumpulan besar kapal membentuk pola lingkaran di daratan yang berjarak satu jam perjalanan dari Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA). Berdasarkan informasi yang dilansir dari Bloombergtechnoz, kapal-kapal ini memancarkan sinyal kecepatan hingga 50 knot tanpa mengalami perpindahan posisi geografis yang nyata.
Anomali serupa juga ditemukan pada sekelompok kapal kecil di dekat perbatasan darat Oman-UEA yang mengirimkan data kecepatan mustahil melebihi 100 knot. Penyesatan sinyal atau signal jamming ini diduga kuat merupakan dampak dari aktivasi sistem pertahanan udara dan perang elektronik pasca intersepsi rudal serta drone milik Teheran pekan lalu.
Analis dari Starboard Maritime Intelligence, Mark Douglas, menyatakan bahwa sektor pelayaran internasional menjadi pihak yang paling terdampak oleh ketegangan militer ini. Penggunaan teknologi pengacau sinyal dinilai sengaja dilakukan sebagai langkah defensif di wilayah perbatasan.
"Sektor pelayaran, dan yang paling mencolok adalah data AIS, terjebak dalam baku tembak elektronik ini," ujar Douglas, merujuk pada Automatic Identification System (AIS) yang menggunakan sinyal radio untuk memancarkan lokasi real-time kapal.
Douglas menambahkan bahwa kemunculan klaster kapal di daratan tersebut menandai tren peningkatan gangguan elektronik di kawasan Teluk. Meskipun intensitasnya belum mencapai level pada awal pecahnya konflik, situasi ini tetap mempersulit pemantauan arus energi global melalui Selat Hormuz.
Risiko keamanan yang meningkat menyebabkan banyak kapten kapal memilih mematikan transponder guna menghindari identifikasi oleh pasukan lawan. Hal ini menyusul laporan adanya satu kapal kargo yang menjadi target serangan di wilayah tersebut pada Minggu sebelumnya.
Hingga saat ini, aktivitas lalu lintas di Selat Hormuz dilaporkan hampir terhenti sepenuhnya dengan pengecekan minimal terhadap kapal yang melintas. Tercatat hanya ada dua kapal tanker yang melakukan penyeberangan menuju Teluk Oman, termasuk Agios Fanourios I.
Kapal pengangkut minyak mentah berukuran sangat besar tersebut mengangkut komoditas dari Irak dengan tujuan akhir Vietnam. Sebagian besar armada pengangkut lainnya tetap menahan diri untuk melintasi jalur krusial tersebut demi menghindari risiko serangan maupun gangguan teknis sistem navigasi.
3 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·