Manajemen IPB University resmi memulai penyelidikan terhadap dugaan kasus pelecehan seksual yang melibatkan sejumlah mahasiswa Fakultas Teknik dan Teknologi (FTT) di lingkungan kampus pada Kamis (16/4/2026). Langkah ini diambil setelah tangkapan layar percakapan grup daring yang merendahkan martabat mahasiswi viral di platform media sosial X.
Dilansir dari Detikcom, laporan resmi mengenai insiden ini telah diterima oleh pihak fakultas pada Rabu, 15 April 2026. Berdasarkan hasil penelusuran awal, percakapan yang memuat komentar tidak pantas tersebut diketahui telah berlangsung sejak tahun 2024 di dalam sebuah grup mahasiswa.
Direktur Kerjasama, Komunikasi, dan Pemasaran IPB University, Alfian Helmi, menyatakan bahwa pihaknya mengecam segala bentuk tindakan yang merendahkan harkat manusia, baik secara luring maupun daring. Kampus kini tengah mendalami bukti-bukti yang relevan serta memanggil pihak-pihak terkait untuk dimintai keterangan.
"IPB University berkomitmen untuk memastikan proses penanganan berjalan lebih komprehensif, berkeadilan, dan berorientasi pada pemulihan korban," kata Alfian Helmi, Kamis (16/4/2026). Ia menambahkan bahwa sebelumnya sempat dilakukan mediasi oleh kakak tingkat, namun proses tersebut dinilai belum memenuhi rasa keadilan bagi korban.
Prioritas utama institusi saat ini adalah menjamin keselamatan serta memberikan pendampingan psikologis dan akademik bagi mahasiswi yang menjadi korban. Pihak universitas juga menegaskan bahwa segala bentuk intimidasi atau stigma terhadap pelapor akan dicegah secara ketat selama proses berlangsung.
Sebagai bagian dari penegakan kode etik, IPB mengaktifkan mekanisme penanganan pelanggaran di tingkat fakultas dan institusi untuk memberikan sanksi tegas bagi pelanggar. Masyarakat dan warga kampus diminta untuk menghormati proses hukum yang sedang berjalan guna menjaga kondusivitas lingkungan akademik.
Pihak rektorat memastikan bahwa penanganan kasus ini akan dilakukan secara transparan dan akuntabel guna menghapus segala bentuk kekerasan gender di lingkungan belajar. Saat ini, pengumpulan bukti-bukti digital dari unggahan media sosial terus diperkuat untuk memperjelas status keterlibatan para terduga pelaku.
3 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·