Teheran (ANTARA) - Iran mulai memulihkan fasilitas minyak dan gas yang rusak akibat konflik dengan Amerika Serikat dan Israel, menurut pejabat setempat.
“Selama perang 40 hari, fasilitas minyak mengalami kerusakan dan serangan. Prioritas utama adalah memulihkannya secepat mungkin, dan hingga kini proses berjalan dengan baik,” ujar Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad kepada lembaga penyiaran nasional.
Direktur Perusahaan Gas Nasional Iran, Saeed Tavakoli, menambahkan bahwa empat stasiun pemrosesan gas di ladang South Pars turut mengalami kerusakan selama konflik dengan AS dan Israel.
Pada 28 Februari, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran yang menimbulkan kerusakan dan korban sipil.
Pada 7 April, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan.
Namun, pembicaraan lanjutan di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan, sehingga Trump memperpanjang penghentian pertempuran untuk memberi waktu bagi Iran menyusun “proposal terpadu.”
Ketegangan tersebut hampir menghentikan lalu lintas di Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global, yang mendorong kenaikan harga energi.
Pada Minggu malam, Trump mengumumkan operasi Project Freedom untuk membantu kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz agar dapat keluar.
Namun, pada Selasa, ia menyatakan akan menunda operasi tersebut sementara waktu untuk melihat kemungkinan tercapainya kesepakatan damai dengan Iran.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA
Baca juga: Komisi Eropa: Dunia hadapi krisis energi terparah dalam sejarah
Baca juga: Harga bensin AS tembus level tertinggi sejak 2022, dampak konflik Iran
Penerjemah: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·