Pemerintah Iran secara resmi menolak klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait kesepakatan penyerahan persediaan uranium diperkaya milik Teheran sebagai bagian dari upaya mengakhiri konflik pada Senin (20/04). Penolakan ini muncul di tengah negosiasi sensitif mengenai masa depan material nuklir tersebut.
Dilansir dari Detikcom, klaim sepihak dari pihak Washington tersebut langsung mendapatkan tanggapan keras dari otoritas diplomatik Iran. Penolakan tersebut disampaikan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, yang menegaskan posisi negaranya dalam wawancara dengan media internasional.
"tidak bisa diterima sejak awal" tegas Saeed Khatibzadeh, Wakil Menteri Luar Negeri Iran.
Pernyataan Khatibzadeh muncul saat kedua negara sedang mencari celah untuk memulai pembicaraan damai lebih lanjut. Status persediaan uranium Iran menjadi titik krusial karena tingkat pengayaannya yang telah melampaui batas penggunaan sipil biasa.
Berdasarkan data intelijen Amerika Serikat, Iran saat ini memiliki simpanan uranium yang cukup besar dengan berbagai tingkat kemurnian. Persediaan tersebut mencakup sekitar 440 kilogram uranium dengan kadar 60 persen, 1.000 kilogram pada kadar 20 persen, serta 8.500 kilogram pada kadar 3,6 persen.
| 3,6% | 8.500 Kilogram | Energi sipil dan riset medis |
| 20% | 1.000 Kilogram | Reaktor riset |
| 60% | 440 Kilogram | Ambang batas senjata nuklir |
Para ahli mengkhawatirkan cadangan berkadar 60 persen tersebut karena hanya memerlukan langkah tambahan minimal untuk mencapai tingkat 90 persen yang diperlukan bagi senjata nuklir. Meski demikian, Teheran terus bersikeras bahwa aktivitas nuklir mereka ditujukan sepenuhnya untuk keperluan damai tanpa ada intensi militer.
"Iran sempat mengembangkan kapasitas dalam desain hulu ledak hingga tahun 2003, ketika tampaknya program itu dihentikan" kata Patricia Lewis, pakar independen pengendalian senjata.
Lewis memberikan catatan bahwa situasi saat ini bisa saja berubah akibat kegagalan berkelanjutan dalam diplomasi nuklir sejak runtuhnya kesepakatan tahun 2015. Menurutnya, kegagalan mencapai perjanjian baru membuka celah bagi Iran untuk mempertimbangkan kembali pengembangan kapasitas hulu ledaknya.
"Setelah runtuhnya kesepakatan nuklir 2015 dan kegagalan berlanjut dalam pembicaraan menuju perjanjian baru, ada kemungkinan Iran memutuskan untuk kembali mengembangkan kapasitas hulu ledak" tambah Patricia Lewis, pakar independen pengendalian senjata.
Hingga saat ini, laporan Badan Intelijen Pertahanan AS pada Mei 2025 menilai bahwa meskipun Iran memiliki kemampuan teknis untuk memproduksi uranium tingkat senjata dalam waktu kurang dari satu minggu, belum ditemukan bukti adanya produksi senjata nuklir yang sedang berlangsung. Di sisi lain, Israel mengklaim memiliki data intelijen yang menunjukkan adanya kemajuan signifikan Iran dalam pengembangan komponen senjata nuklir.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·