Pemerintah Iran menetapkan syarat jaminan keamanan yang kredibel dari Amerika Serikat dan Israel sebagai prasyarat stabilitas di kawasan Teluk Persia. Dilansir dari Detikcom, penegasan ini muncul di tengah ketegangan maritim yang melibatkan kontrol atas jalur strategis Selat Hormuz pada Senin (27/4/2026).
Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Amir Saeid Iravani, menyampaikan sikap tersebut dalam sesi Dewan Keamanan PBB di New York. Iran menanggapi kecaman puluhan negara terkait pengambilalihan kendali Selat Hormuz dengan menekankan perlunya penghentian agresi secara permanen.
"Stabilitas dan keamanan yang langgeng di Teluk Persia dan kawasan yang lebih luas hanya dapat dicapai melalui penghentian agresi yang berkelanjutan dan permanen terhadap Iran yang dilengkapi dengan jaminan yang kredibel untuk tidak terulangnya serangan dan penghormatan penuh terhadap hak dan kepentingan kedaulatan Iran yang sah," tegas Iravani di hadapan Dewan Keamanan PBB.
Iravani turut melayangkan kritik tajam terhadap standar ganda anggota Dewan Keamanan yang dinilai mengabaikan blokade laut oleh Amerika Serikat. Ia menuduh Washington melakukan tindakan yang mengancam keselamatan awak kapal komersial di perairan internasional.
"Amerika Serikat bertindak seperti bajak laut dan teroris, menargetkan kapal-kapal komersial melalui paksaan dan intimidasi, meneror awak kapal, secara ilegal menyita kapal, dan menyandera anggota awak kapal," sebut Iravani.
Diplomat senior tersebut menyayangkan absennya kecaman internasional terhadap tindakan AS selama pertemuan berlangsung. Ia menilai aksi penyitaan kapal oleh otoritas Amerika Serikat telah melanggar prinsip navigasi internasional yang sering diklaim oleh negara-negara Barat.
"Namun, tidak seorang pun dari mereka yang menyatakan keprihatinan terhadap navigasi internasional, berani menyinggung atau mengutuk tindakan teroris ini dalam pertemuan hari ini," ucap Iravani mengkritik negara-negara anggota Dewan Keamanan PBB.
Tuduhan lebih lanjut diarahkan kepada persekutuan AS dan Israel yang dianggap sebagai pemicu utama instabilitas regional sejak awal tahun. Iran mengklaim kedua negara tersebut telah memulai konfrontasi militer tanpa alasan yang jelas terhadap kedaulatan mereka.
"Sejak 28 Februari, Amerika Serikat dan rezim Israel telah mengobarkan perang agresi skala besar yang tidak beralasan terhadap Iran," kata Iravani.
Pemerintah Iran bersikeras bahwa tindakan mereka di Selat Hormuz merupakan langkah praktis untuk menjaga keamanan wilayah pesisir. Iravani menegaskan bahwa operasional navigasi di jalur tersebut harus steril dari kepentingan militer yang bersifat bermusuhan terhadap Iran.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·