Pemerintah Iran secara resmi menutup kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz setelah sempat membukanya pada Jumat pekan lalu menyusul adanya laporan serangan terhadap kapal-kapal komersial yang melintas di kawasan tersebut. Langkah penutupan ini dilakukan oleh Angkatan Laut Garda Revolusi Iran dengan peringatan bahwa setiap kapal yang mendekati area tersebut akan dianggap sebagai target militer.
Dilansir dari Money, penutupan jalur perdagangan internasional ini berdampak signifikan terhadap stabilitas harga komoditas global, termasuk bahan baku plastik dan produk petrokimia. Kelancaran arus lalu lintas di selat tersebut sebelumnya sempat menjadi sentimen positif bagi pemulihan pasokan industri di Indonesia.
Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menjelaskan bahwa pembukaan jalur tersebut seharusnya memberikan dampak pada penurunan harga minyak, gas, dan petrokimia. Namun, pemulihan pasokan memerlukan waktu yang tidak sebentar bagi industri di dalam negeri.
"Walaupun kelancarannya tidak langsung ya serta merta, mungkin ada leg waktu, jadi tidak bisa terlalu cepat pulih," ungkap Mohammad Faisal, Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif CORE Indonesia.
Faisal menambahkan bahwa hambatan pada distribusi energi dan petrokimia memiliki dampak luas hingga ke industri penerbangan. Menurutnya, perbaikan rantai pasok sangat krusial dalam menentukan biaya produksi kemasan plastik dan operasional transportasi.
"Yang jelas dengan pembukaan Selat Hormuz mestinya memberikan efek positif pada penurunan harga," terang Mohammad Faisal, Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif CORE Indonesia.
Kebutuhan industri terhadap jalur ini dinilai sangat vital karena merupakan akses utama bagi lalu lintas energi dunia. Faisal menekankan bahwa kelancaran distribusi akan sangat bergantung pada stabilitas keamanan di wilayah selat tersebut.
"Yang akan kembali lebih lancar dengan pembukaan Selat Hormuz adalah lalu lintas minyak, gas, dan petrokimia," kata Mohammad Faisal, Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif CORE Indonesia.
Di sisi lain, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai bahwa pembukaan jalur tersebut hanya meredakan tekanan akut secara sementara. Kompleksitas pembentukan harga plastik melibatkan rantai pasok yang panjang, mulai dari feedstock hingga kapasitas operasi pabrik petrokimia.
"Masalahnya, dua risiko terakhir belum sepenuhnya pulih," ungkap Syafruddin Karimi, Ekonom sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Andalas, Padang.
Data pasar menunjukkan harga bahan baku seperti Naphtha dan Propane masih berada di level tinggi, ditambah adanya gangguan keamanan pada pusat produksi di wilayah Asaluyeh. Syafruddin menegaskan bahwa pelaku pasar cenderung masih menahan stok dan memasukkan premi risiko tinggi ke dalam harga jual.
"Dalam kondisi seperti ini, pelaku pasar tetap akan membeli kepastian dengan harga tinggi, menahan stok, dan memasukkan premi risiko ke harga resin. Karena itu, pembukaan Hormuz lebih tepat dibaca sebagai sinyal meredanya tekanan, bukan sinyal otomatis turunnya harga plastik," ungkap Syafruddin Karimi, Ekonom sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Andalas, Padang.
Meskipun harga minyak sempat mengalami penurunan saat selat dibuka, Syafruddin mengingatkan bahwa ribuan pelaut dan kapal masih terjebak akibat konflik yang terjadi sebelumnya. Hal ini tetap membebani ekonomi nasional melalui kenaikan biaya logistik dan waktu tunggu pengiriman barang.
"Efek pertamanya memang positif, tekanan pada pasar energi mereda, harga minyak turun dari sekitar 95 dollar AS per barrel ke bawah 89 dollar AS per barrel, dan sentimen pasar global membaik," ujar Syafruddin Karimi, Ekonom sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Andalas, Padang.
Penurunan harga energi juga dinilai berpotensi mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat. Bagi Indonesia, kondisi ini berpengaruh langsung pada beban inflasi impor dan biaya transportasi domestik.
"Bagi Indonesia, perkembangan ini penting karena biaya impor energi, biaya transportasi, dan tekanan inflasi impor bisa sedikit melunak bila penurunan harga itu bertahan," imbuh Syafruddin Karimi, Ekonom sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Andalas, Padang.
Syafruddin memperingatkan bahwa pembukaan selat yang singkat belum bisa disebut sebagai pemulihan perdagangan ke kondisi normal. Struktur perdagangan saat ini masih membawa beban risiko keamanan yang signifikan.
"Jadi, cara paling tepat memahami efek pembukaan Hormuz adalah ini, ia menurunkan suhu krisis, tetapi belum memulihkan fondasi pasokan dan perdagangan ke keadaan aman," terang Syafruddin Karimi, Ekonom sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Andalas, Padang.
Kenaikan harga bahan baku plastik juga dirasakan oleh berbagai sektor, mulai dari industri makanan minuman hingga konstruksi. Data menunjukkan harga resin utama seperti PP Injection dan HDPE Film masih bertahan di level yang cukup memberatkan produsen hilir.
"Sektor terdampak tidak langsung mencakup UMKM, perdagangan ritel, jasa distribusi, dan rumah tangga, karena kenaikan harga kemasan dan barang turunan pada akhirnya akan diteruskan ke harga jual," ucap Syafruddin Karimi, Ekonom sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Andalas, Padang.
Dampak ekonomi ini diprediksi akan paling berat dirasakan oleh kelompok masyarakat berpendapatan rendah. Hal ini dikarenakan kenaikan harga kemasan akan memicu lonjakan harga kebutuhan harian dan produk kebersihan.
"Jadi, pembukaan Hormuz tidak hanya menyentuh sektor energi. Dampaknya menjalar ke struktur biaya industri dan biaya hidup masyarakat," ucap Syafruddin Karimi, Ekonom sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Andalas, Padang.
Berdasarkan data dari Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas), harga bahan baku plastik di pasar domestik telah melonjak drastis hingga 80 persen. Kenaikan ini memicu fase penyesuaian harga di tingkat pedagang dan pelaku UMKM.
“Harga bahan baku plastik yang sebelumnya sekitar 1.000 dollar AS per metrik ton, kini sudah naik hingga 1.800 dollar AS. Artinya kenaikannya hampir 80 persen,” ujar Fajar Budiono, Sekretaris Jenderal Inaplas.
Kini dengan pengumuman terbaru dari Iran, blokade Selat Hormuz akan diberlakukan hingga Amerika Serikat mencabut sanksi pelabuhannya. Pihak Iran mengklaim penutupan kembali dilakukan karena kegagalan pemenuhan kesepakatan oleh pihak Amerika Serikat.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·