Negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang digelar pada Sabtu (13/4/2026), berakhir tanpa kesepakatan. Menyusul kebuntuan ini, Israel memberikan peringatan keras dan mengisyaratkan kemungkinan kembali melakukan serangan terhadap Iran, meningkatkan potensi eskalasi konflik di Timur Tengah.
Menteri Energi Israel, Eli Cohen, seperti dikutip dari Detikcom, menyatakan bahwa serangan terhadap Teheran bisa terjadi jika tidak ada kesepakatan yang dicapai. Cohen menjelaskan bahwa isu nuklir bersifat internasional dan menekankan pentingnya garis merah yang telah ditetapkan oleh mantan Presiden AS, Donald Trump. Menurut Cohen, jika kesepakatan gagal tercapai, opsi serangan terhadap Iran akan terbuka.
Mengenai situasi di Lebanon, yang menjadi lokasi operasi militer Israel dan perluasan serangan terhadap kelompok Hizbullah, Cohen berpendapat bahwa Tel Aviv harus mempertimbangkan serangan tidak hanya terhadap pasukan militer, tetapi juga terhadap fasilitas dan infrastruktur Lebanon.
Menteri Ekonomi Israel, Nir Barkat, dalam sebuah wawancara dengan Channel 14, mengklaim bahwa AS akan mencapai tujuan mereka dalam perang melawan Iran. Barkat menuturkan bahwa para pejabat Iran tidak memahami tekad Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Ia menegaskan bahwa konflik akan berlanjut hingga tujuan tercapai.
Menteri Kebudayaan dan Olahraga Israel, Miki Zoha, melalui media sosial X, menyampaikan bahwa ketegasan Washington dalam mencegah Iran memperoleh senjata nuklir mencerminkan koordinasi erat dengan Israel. Zoha mengklaim bahwa AS dan Israel akan terus berupaya mencegah Iran memiliki senjata nuklir.
Sebelumnya, perundingan yang berlangsung selama 21 jam di Islamabad, Pakistan, gagal menghasilkan kesepakatan terkait gencatan senjata antara AS dan Iran. Kegagalan ini memicu AS untuk berencana memblokade Selat Hormuz, yang semakin meningkatkan ketegangan di kawasan.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·