Israel Operasikan Sistem Penargetan Cerdas Tangkal Drone Hizbullah

Sedang Trending 3 jam yang lalu

Militer Israel dilaporkan tengah mengupayakan metode efektif guna menghalau serangan pesawat tanpa awak atau drone milik kelompok Hizbullah yang intensitasnya meningkat di Lebanon selatan. Drone berbasis fiber optik yang dioperasikan Hizbullah menjadi hambatan serius bagi pergerakan pasukan Tel Aviv.

Mengutip laporan media lokal Israel, KAN, yang dilansir dari Detikcom pada Senin (11/5/2026), otoritas militer Israel baru-baru ini telah menempatkan sistem penargetan cerdas di wilayah konflik tersebut. Langkah ini diambil untuk memperkuat kemampuan deteksi serta pencegatan terhadap armada drone canggih lawan.

Selain sistem penargetan, ratusan unit teropong malam atau night-vision tipe Dagger juga sudah dibagikan kepada para prajurit di lapangan. Alat ini berfungsi meningkatkan presisi serangan terhadap sasaran yang bergerak cepat dalam kondisi gelap atau operasi malam hari.

Data dari laporan KAN menyebutkan bahwa teknologi fiber optik pada drone Hizbullah menjadi salah satu kendala operasional terbesar bagi pasukan Israel. Karakteristik drone ini membuatnya sangat sulit untuk dideteksi maupun dijatuhkan dengan sistem pertahanan konvensional yang ada saat ini.

Hingga kini, drone-drone tersebut terus melancarkan serangan yang menargetkan personel serta kendaraan tempur Israel di tengah operasi militer di Lebanon selatan. Pihak Tel Aviv mengakui bahwa mereka masih mencari solusi pertahanan yang benar-benar handal untuk mengatasi ancaman spesifik ini.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, pada akhir April lalu sempat memberikan pernyataan terkait situasi keamanan ini. Ia menekankan perlunya inovasi pertahanan untuk menghadapi taktik baru lawan.

"Rudal dan drone Hizbullah merupakan dua ancaman besar," ujar Netanyahu saat mendesak jajaran komandan militer untuk segera menemukan cara penangkalan yang efektif.

Konteks Konflik dan Perundingan Damai

Meskipun status gencatan senjata telah berlaku sejak 17 April dan diperpanjang hingga pertengahan Mei, eskalasi di lapangan tetap tinggi. Baku tembak antara militer Israel dan kelompok Hizbullah masih terjadi hampir setiap hari di wilayah perbatasan Lebanon.

Konflik terbuka antara kedua pihak ini kembali pecah pada 2 Maret, tak lama setelah pecahnya perang skala besar yang melibatkan kekuatan regional di akhir Februari. Rangkaian serangan di Lebanon dilaporkan telah mengakibatkan lebih dari 2.700 orang kehilangan nyawa dan memaksa jutaan warga mengungsi.

Saat ini, Israel tetap mempertahankan keberadaan zona penyangga atau buffer zone di wilayah kedaulatan Lebanon. Di sisi lain, upaya diplomasi terus dilakukan dengan Amerika Serikat sebagai penengah perundingan damai.

Putaran dialog terbaru antara perwakilan Israel dan Lebanon dijadwalkan akan berlangsung pada 14-15 Mei mendatang. Pertemuan tersebut diharapkan mampu meredam ketegangan bersenjata yang terus berkecamuk di wilayah tersebut.