Jejak-jejak orang Jawa di Muar, Johor

Sedang Trending 34 menit yang lalu

Muar, Johor, Malaysia (ANTARA) - Masyarakat Jawa secara historis dikenal cukup mempengaruhi lanskap sosial masyarakat tidak hanya di Indonesia, melainkan sampai ke Asia Tenggara.

Hal itu disebabkan migrasi yang dilakukan orang Jawa ke berbagai wilayah di Asia Tenggara sejak abad ke-19 untuk menyikapi penjajahan kolonial di tanah kelahirannya.

Migrasi itu membuat budaya yang dibawa mereka berbaur dengan budaya di daerah tujuan dan bertahan hingga lintas generasi.

Salah satu jejak migrasi masyarakat Jawa dapat dijumpai di wilayah Muar, Johor, Malaysia.

Wilayah yang terletak di pinggir Selat Melaka ini, dikenal sebagai wilayah hasil perpaduan antara warga Malaysia dengan masyarakat Jawa dan Bugis.

Pada 28–30 Mei, ANTARA berkesempatan berkunjung ke Kampung Sarang Buaya, di daerah Muar, Johor, Malaysia – bersama dengan rekan media internasional dan sejumlah agen perjalanan Singapura, dalam acara Familiarisation Trip showcase package homestay yang diselenggarakan badan Tourism Malaysia – dan menelusuri jejak-jejak masyarakat Jawa di wilayah tersebut.

Keturunan Jawa

"Iso ngomong jowo aku. Setunggal, kalih, tiga, sekawan, gangsal, sedoso". (aku bisa berbahasa Jawa. Satu, dua, tiga, empat, lima, sepuluh).

Kalimat itu diucapkan seorang anggota dewan dari daerah Sungai Balang, Muar, Johor, Malaysia, bernama Selamat Takim, ketika berbincang dengan ANTARA di Kampung Sarang Buaya, Muar, Johor, usai membuka kegiatan Familiarisation Trip yang diselenggarakan Tourism Malaysia.

Selamat Takim merupakan tokoh Malaysia di Muar, yang masih keturunan Jawa. Leluhur Selamat adalah keturunan Sultan Pakubuwono XI dari Solo, Jawa Tengah.

Selamat Takim, yang dalam sebutan kehormatan bagi anggota dewan di Malaysia biasa disapa YB atau Yang Berhormat, menceritakan, Muar pada zaman dulu merupakan daerah tempat hijrah masyarakat Indonesia dalam mencari wilayah baru, sebagai dampak dari perang kolonial Belanda.

Menurut dia, pada abad ke-17 awalnya masyarakat Bugis, Makassar, Sulawesi Selatan lah yang banyak berhijrah di wilayah Pantai Johor.

Masyarakat Bugis lalu membentuk kawasan yang akhirnya ditempati tidak hanya etnis Bugis, namun juga imigran Jawa.

Masyarakat Bugis dan Jawa kemudian membuat perkampungan, menikah dengan warga Melayu setempat, dan bertahan hingga saat ini di Muar.

Sehingga, kata Selamat, hari ini kebanyakan dari masyarakat di Muar memiliki hubungan kekeluargaan yang erat dengan Indonesia.

"Kita ki sedulur. Wong serumpun. Jamane biyen kita satu rumpun. Iki dino kita pisah rong negoro kabehane merupakan nusantara yang terdiri dari masyarakat melayu yang bersatu menghormati, yang sama sama podo podo bayan biar negorone pada maju. Maju Indonesia, maju Malaysia, kita loro negoro jadi kuat ning Asia Tenggara. Hidup Indonesia, hidup Malaysia," kata Selamat.

(Kita bersaudara. Orang serumpun. Zaman dulu kita satu rumpun. Sekarang kita terpisah menjadi dua negara, seluruh kepulauan ini terdiri atas orang-orang Melayu yang bersatu dan saling menghormati, sehingga negara dapat maju, Indonesia maju, Malaysia maju, kita berdua menjadi kuat di kawasan Asia Tenggara. Hidup Indonesia, hidup Malaysia!).

Selamat hanya satu dari banyak warga Muar yang punya silsilah keturunan orang Jawa. Tidak sekadar berdarah Jawa, namun mereka juga mencintai budaya dan adat leluhurnya.

Hamparan sawah di Sungai Balang, Muar, Johor, Malaysia. (ANTARA/Rangga Pandu Asmara Jingga)

Penyebar padi

Dalam kisah yang beredar di Kampung Sarang Buaya, Muar, Johor, disebutkan bahwa orang-orang Jawa merupakan etnis yang menyebarkan padi di wilayah Sarang Buaya, Muar.

Selama masa-masa sulit penjajahan di Jawa, beberapa keluarga Jawa melakukan perjalanan ke utara, menuju Semenanjung Melayu dengan perahu dan menetap di sepanjang Sungai Sarang Buaya, yang terletak di Muar, Johor, di tepi Selat Melaka.

Mereka mendirikan permukiman di Kampung Sarang Buaya Darat serta di area pertanian di sekitar Sungai Balang.

Uniknya, menurut cerita rakyat sekitar, butiran padi yang dibawa transmigran Jawa secara tidak sengaja tumpah dari wadah penyimpanan dan dengan cepat bertunas, meyakinkan para penduduk lokal bahwa tanah di Kampung Sarang Buaya, Muar, sangat subur.

Hal ini akhirnya mendorong dibukanya persawahan yang dikenal saat ini sebagai Sawah Sarang Buaya atau Sawah Sungai Balang.

Banyak keturunan dari para penduduk Jawa ini yang masih tinggal di desa tersebut, sampai melestarikan berbagai bentuk kebudayaan Jawa dalam kehidupan sehari-hari.

Keraton Mbah Anang

Selain Selamat Takim sang anggota dewan daerah, di Muar Johor terdapat satu warga Malaysia keturunan Jawa bernama Johar Paimin. Dia lahir dan besar di Malaysia, tapi memiliki silsilah keturunan orang Mojokerto, Jawa.

Karena kecintaan terhadap budaya leluhurnya, Johar Paimin sampai mendirikan bangunan menyerupai keraton Jawa, yang ia namakan Keraton Mbah Anang, di wilayah Muar, Johor.

Nama Mbah Anang diambilnya dari istilah Jawa "lanang" yang artinya laki-laki, dan dipadukan dengan bahasa Bugis, menjadi kata "anang".

Sehingga Mbah Anang dimaksudkan seorang lelaki yang sudah tua.

Bangunan joglo di Keraton Mbah Anang, Muar, Johor, Malaysia. (ANTARA/Rangga Pandu Asmara Jingga)

Bangunan keraton terdiri atas tembok gapura besar khas Mojokerto di bagian depan, yang dibangun dengan batu bata khusus yang didatangkan langsung dari Jawa.

Di gerbang gapura keraton terdapat wayang gunungan berukuran jumbo, yang pada salah satu sisinya dilukis dengan seni budaya Jawa dan dipadukan dengan budaya Melayu dengan sosok dua harimau di bagian kiri dan kanan.

Pada bagian dalam keraton terdapat area pekarangan yang luas, dan sebuah rumah joglo di bagian tengah menjorok ke belakang.

Bangunan Joglo milik Johar cukup unik, dengan partisi kayu-kayu jati ukiran Jepara yang dipadukan dengan budaya Melayu.

Johar mengisi joglo miliknya dengan barang-barang khas budaya asal leluhurnya seperti wayang, topeng, reog/barongan hingga gamelan lengkap. Dia juga mengadakan kelas gamelan bagi anak-anak Malaysia setempat.

"Kenapa harus dilestarikan? Karena kita harus kembali semula kepada akar kita," kata Johar kepada ANTARA.

Seorang anak Malaysia bermain gamelan di Keraton Mbah, Muar, Johor, Malaysia. (ANTARA/Rangga Pandu Asmara Jingga)

Ibarat pepatah Jawa, sangkan paraning dumadi yang artinya manusia harus sadar atas asal dan tujuan dari penciptaannya.

Hal itu yang menjadi pegangan hidup Johar dalam melestarikan budaya leluhurnya. Walaupun sebagai orang Malaysia, Johar mengaku sangat bangga menjadi orang Jawa.

Bagi Johar, leluhur Jawa adalah orang-orang yang hebat.

Johar sedikit bercerita tentang tantangan yang dihadapinya dalam melestarikan budaya leluhurnya di tanah Malaysia.

Menurutnya di satu sisi pemerintah Malaysia memandang budaya Jawa adalah budaya Indonesia, sehingga dirinya tidak leluasa melestarikan budaya Jawa di tanah jiran.

Di sisi lain, pihak Indonesia menganggap masyarakat keturunan Jawa di Muar mencaplok budaya milik Indonesia.

Akhirnya ia berdiskusi dengan akademisi dan budayawan asal Malaysia dan Indonesia. Dan ditemukan konklusi bahwa pada faktanya memang Jawa yang ada di Muar, adalah Jawa perpaduan dengan Melayu.

"Apa yang kami bangun sebetulnya berbeda. Kami membangun budaya Jawa yang bercampur dengan Melayu, kami bukan lagi murni Jawa," kata Johar.

Johar mencontohkan misalnya dengan budaya reog Ponorogo, yang di Muar disebut dengan barongan.

Dia menyampaikan bahwa reog memang berasal asli dari Ponorogo. Dan dirinya sebagai orang keturunan leluhur Ponorogo mencoba melestarikan budaya kesenian itu di tempat tinggalnya saat ini atas nama garis keturunan orang-orang Ponorogo.

"Maka kalau disebut reog Ponorogo milik Malaysia, itu bukan. Tapi milik Ponorogo. Karena Malaysia luas. Dan sudah ada UNESCO, itu tidak bisa dipungkiri bahwa reog dari dan milik orang Ponorogo," kata dia.

Kisah warga setempat

Mohd Khairi bin Abu, adalah salah satu warga asli Malaysia yang sudah lama tinggal di Muar, Johor.

Khairi bukanlah keturunan Jawa atau Bugis. Tapi sebagai salah satu warga yang dituakan dan dihormati di Kampung Sungai Buaya, Khairi sedikit banyak tahu sejarah pergerakan masyarakat Jawa di Muar, Malaysia.

"Dulu kita disebut Kepulauan Melayu. Kepulauan Melayu itu Malaysia, Indonesia, selatan Thailand, Singapura, semua kepulauan Melayu," ujar Khairi kepada ANTARA.

Dia mengatakan pergerakan masyarakat Jawa ke berbagai wilayah, sebelum lahir negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, telah membentuk dan menghasilkan sebuah persilangan budaya.

Itu mengapa ada beberapa kesenian masyarakat Jawa yang juga dilakukan di Malaysia.

"Misalnya Kuda Kepang, lalu ada Barongan, berasal dari sana (wilayah Jawa). Tapi ada perbedaan dari seni budaya," kata Khairi.

Tidak hanya kesenian, jejak masyarakat Jawa, Bugis, juga tercermin dari cita rasa kuliner di Muar yang memiliki keselarasan dengan kuliner Indonesia dan mengalami persilangan.

Panganan di Muar mulai dari hidangan utama hingga camilan, memiliki jenis dan cita rasa yang begitu familiar bagi orang Indonesia, khususnya Jawa. Namun panganan ini sudah bersilang dengan budaya Melayu, akibat sejarah migrasi masyarakat Jawa tadi. Terlebih akar budaya Indonesia dan Malaysia, sebelum keduanya merdeka, adalah satu rumpun.

Makanan seperti soto, ketupat, lepat, nasi ambeng dan lain sebagainya bisa dijumpai di Muar.

Selain itu beberapa nama-nama Jawa juga ada di Muar, seperti Parit Jawa, kemudian sumber air panas Sungai Gersik yang diambil dari bahasa Jawa "resik" yang artinya bersih. Semuanya berpadu dan menggambarkan jejak masyarakat Jawa yang cukup kuat di wilayah Muar, Johor.

Direktur Senior Divisi Iklan dan Digital Badan Tourism Malaysia, Akbal Setia kepada ANTARA menyampaikan kondisi yang terjadi di Muar mencerminkan kuatnya hubungan sosial dan budaya yang telah terbentuk antara masyarakat kedua negara sejak lama.

Menurut Akbal, walaupun terkadang kadang timbul sedikit isu soal budaya, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa nilai-nilai persahabatan Malaysia dengan Indonesia sangat tinggi.

Demikian jejak-jejak masyarakat Jawa di Muar, Johor, Malaysia, yang dapat disaksikan ANTARA dalam kesempatan berkunjung ke Muar, Johor, Malaysia.

Penulisan artikel ini bertujuan untuk memberikan gambaran betapa persaudaraan Indonesia dengan Malaysia memang sudah dijalin sejak sebelum kemerdekaan, melalui migrasi para leluhur di wilayah Semenanjung Melayu.

Persaudaraan kedua negara ini tentu senantiasa harus terus dijaga dalam bingkai serumpun, baik dari segi hubungan bilateral, hingga hubungan antarmasyarakat.

Tidak ada yang boleh merusak hubungan persaudaraan serumpun antara Indonesia dengan Malaysia.

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.