Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dan Pulau Madura ditutup sementara pada Rabu, 15 April 2026, mulai pukul 10.00 WIB guna pelaksanaan pengujian dinamis pada bentang tengah. Penutupan total ini mencakup jalur mobil maupun sepeda motor untuk memastikan keamanan serta keandalan struktur jembatan.
Kanit Gakkum Satlantas Polres Bangkalan, Ipda Akhmad Jauhari, menjelaskan bahwa penutupan akan dilakukan dalam empat sesi dengan durasi masing-masing sekitar 2 hingga 3 menit. Di antara setiap sesi penutupan, petugas akan memberikan jeda waktu selama 10 hingga 15 menit sebelum jalur kembali ditutup untuk pengujian berikutnya.
Kepala Satker Pelaksana Jalan Bebas Hambatan (PJBH) Suramadu, Suparyanto, menegaskan bahwa pengujian kesehatan jembatan ini merupakan prosedur rutin dan tidak berkaitan dengan kasus pencurian besi yang sempat marak terjadi. Fokus utama pengujian adalah mengukur respons beban dinamis pada konstruksi bentang tengah jembatan sepanjang 5,4 kilometer tersebut.
Meski secara teknis infrastruktur terus dipelihara, efektivitas ekonomi Jembatan Suramadu yang dibangun dengan dana APBN senilai Rp4,5 triliun masih menjadi sorotan legislator. Anggota Komisi C DPRD Jawa Timur, Mohammad Nasih Aschal, menilai pertumbuhan ekonomi di Madura belum optimal meski akses transportasi sudah semakin mudah sejak jembatan diresmikan pada 2009.
"Saya melihat intensitas komunikasi yang belum terbangun secara komprehensif antara pemerintah dalam hal ini dengan masyarakat yang ada di bawah," kata Anggota DPRD Jatim, Mohammad Nasih Aschal, dilansir dari Tribun Jatim Network. Menurutnya, pemerintah pusat dan daerah perlu lebih bersinergi agar kehadiran jembatan ini tidak hanya mempercepat arus konsumsi ke Surabaya, tetapi juga menggerakkan sektor produksi lokal.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Depok Raya Pikiran Rakyat, wilayah Madura masih menghadapi tantangan kebocoran ekonomi di mana perputaran uang lebih banyak terserap ke Surabaya. Selain itu, hambatan struktural seperti isu pungutan liar, ketidakpastian biaya operasional, dan sengketa lahan dinilai masih menjadi faktor penghambat masuknya investasi ke empat kabupaten di Pulau Madura.
Ra Nasih menambahkan bahwa penguatan infrastruktur dasar untuk UMKM, seperti batik dan kuliner, harus menjadi prioritas sebelum melangkah ke tahap inovasi. Ia mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga citra positif Madura guna menciptakan iklim investasi yang lebih stabil dan kompetitif dibandingkan kawasan industri lain di Jawa Timur.
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·