Moskow (ANTARA) - Jerman kembali melanjutkan upaya membeli rudal jelajah Tomahawk buatan Amerika Serikat dan juga berharap dapat memperoleh peluncur Typhon, lapor surat kabar Financial Times pada Minggu, mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut.
Pada awal pekan ini, Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul mengatakan bahwa Berlin masih melakukan konsultasi intensif dengan Amerika Serikat terkait kemungkinan penempatan rudal Tomahawk di Jerman.
Kanselir Jerman Friedrich Merz sebelumnya juga menegaskan bahwa ia tidak memperkirakan pengiriman rudal Tomahawk dari AS ke Jerman akan segera terjadi, meskipun ia tidak menutup kemungkinan situasi tersebut dapat berubah di masa depan.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius berencana melakukan perjalanan ke Washington untuk kembali mengajukan proposal Jerman terkait pembelian sistem rudal jarak jauh kepada Gedung Putih, kata salah satu sumber kepada surat kabar tersebut.
Namun, perjalanan itu akan bergantung pada apakah pertemuan dengan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dapat diatur.
Berlin disebut kemungkinan siap membayar lebih mahal demi menjamin pembelian tersebut, tambah laporan itu, mengutip seorang sumber.
Pada Juli 2024, pemerintahan AS sebelumnya dan pemerintah Jerman mengumumkan rencana untuk menempatkan sistem rudal presisi jarak jauh milik AS di Jerman mulai tahun 2026.
Sistem tersebut disebut memiliki kemampuan yang jauh melampaui persenjataan yang saat ini ditempatkan di Eropa. Rencana itu mencakup penempatan rudal SM-6, rudal jelajah Tomahawk, dan senjata hipersonik.
Adapun Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa jika AS menempatkan senjata semacam itu di Jerman, maka Rusia akan menganggap dirinya tidak lagi terikat pada moratorium penempatan sistem serangan jarak menengah dan jarak pendek.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Penerjemah: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·