Sebuah pesawat tempur F-15E Strike Eagle milik Amerika Serikat diduga kuat jatuh akibat tembakan rudal panggul buatan China saat melintas di wilayah Iran pada April lalu. Insiden penembakan ini memicu misi penyelamatan berbahaya terhadap dua awak pesawat, sebagaimana dilansir dari Detik iNET.
Hingga kini, pejabat intelijen dan militer Amerika Serikat masih terus melakukan penyelidikan mendalam terkait situasi di sekitar lokasi jatuhnya jet tempur tersebut. Berdasarkan informasi dari tiga sumber yang mengetahui masalah ini, Beijing juga diduga sempat memasok radar peringatan dini jarak jauh YLC-8B kepada Teheran untuk melacak pesawat siluman.
Senjata pertahanan udara portabel yang diduga menjatuhkan jet tersebut memiliki panjang sekitar 2,1 meter dengan bobot sekitar 18 kilogram. Dua awak jet F-15 berhasil melontarkan diri dengan selamat, di mana sang pilot berhasil dievakuasi dalam tujuh jam, sementara perwira sistem persenjataan ditemukan setelah bersembunyi selama dua hari di kaki Pegunungan Zagros.
Pemerintah Amerika Serikat mengonfirmasi jenis senjata yang digunakan dalam peristiwa tersebut melalui keterangan resmi yang disampaikan oleh Presiden Donald Trump.
"Presiden Xi telah berjanji kepada saya bahwa ia tidak mengirim senjata apa pun ke Iran. Itu adalah janji yang indah. Saya percaya pada perkataannya. Saya sangat menghargainya," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Penggunaan alutsista ini memperumit hubungan diplomatik kedua negara, terlebih setelah Gedung Putih menuduh China memberikan akses satelit komersial ke Iran untuk menargetkan pasukan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Pihak Kedutaan Besar China di Washington langsung mengeluarkan pernyataan resmi untuk membantah seluruh tuduhan mengenai pasokan senjata dan bantuan teknologi militer tersebut.
"China selalu bertindak hati-hati dan bertanggung jawab terkait ekspor produk militer, serta menerapkan pengawasan ketat sesuai dengan hukum dan peraturan kontrol ekspor Tiongkok serta kewajiban internasional. China menentang fitnah tak berdasar dan pengaitan yang berniat buruk," sebut Kedubes China.
Catatan sejarah menunjukkan China pernah menjual berbagai senjata berat seperti rudal balistik, tank, dan jet tempur ke Iran pada periode 1980-an hingga 1990-an. Pasokan tersebut berkurang menjadi hanya komponen dan teknologi industri setelah adanya embargo senjata PBB pada tahun 2006.
47 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·