Jual Nasi Lemak Rp 95 Ribu, Pedagang Ini Ternyata Tetap Sulit Untung

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Jakarta -

Menjalankan usaha makanan kaki lima di hawker centre Singapura ternyata tidak selalu mendatangkan keuntungan besar. Seperti kisah penjual nasi lemak ini.

Seorang penjual nasi lemak bernama Jonas Koh mengungkap bahwa ia harus menjual setidaknya 40 porsi nasi lemak setiap hari hanya untuk mencapai titik 'break even' atau balik modal. Ia mengaku keuntungannya tipis.

Dilansir dari CNA Insider (12/05/2026), pria 31 tahun itu merupakan pemilik gerai The Kumpong Boys di kawasan Ang Mo Kio, Singapura. Jonas bekerja hingga 11 jam selama enam hari dalam seminggu demi mempertahankan usaha nasi lemaknya agar tetap berjalan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jual Nasi Lemak Rp 95 Ribu, Pedagang Ini Ternyata Tetap Sulit UntungJual Nasi Lemak Rp 95 Ribu, Pedagang Ini Ternyata Tetap Sulit Untung Foto: Youtube CNA Insider

Menu andalan di gerainya adalah nasi lemak berempah yang dijual seharga SGD 6,90 atau sekitar Rp 95 ribu. Harga tersebut sempat dianggap mahal oleh sebagian pelanggan karena kebanyakan nasi lemak di hawker centre biasanya dijual sekitar SGD 4 (Rp 55.000) hingga SGD 5 (Rp 69.000).

Namun, Jonas menjelaskan bahwa porsi dan kualitas lauk yang ditawarkan berbeda. Ia menggunakan ayam goreng berempah dengan ukuran jauh lebih besar dibandingkan kebanyakan penjual nasi lemak lainnya.

"Untuk ayam berempah kami beratnya sekitar 300 gram, sementara di banyak tempat nasi lemak biasanya hanya sekitar 50 sampai 60 gram," ujar Jonas.

Meski begitu, margin keuntungan yang diperolehnya tetap kecil. Dari setiap porsi nasi lemak yang terjual, Jonas mengaku hanya mendapat keuntungan sekitar SGD 1,50. (Rp 20.600). Dalam sebulan, penghasilannya berkisar SGD 2.000 (Rp 27,5 juta) hingga SGD 2.500 (Rp 34,5 juta).

Jual Nasi Lemak Rp 95 Ribu, Pedagang Ini Ternyata Tetap Sulit UntungJual Nasi Lemak Rp 95 Ribu, Pedagang Ini Ternyata Tetap Sulit Untung Foto: Youtube CNA Insider

"Ketika saya mengatakan break even, artinya pemasukan itu hanya cukup untuk menutup biaya bahan baku, sewa, air, dan gas. Itu bahkan belum termasuk gaji saya sendiri," jelasnya.

Dari harga seporsi nasi lemak sebesar SGD 6,90, sekitar SGD 2,70 (Rp 37.200) digunakan untuk membayar biaya sewa dan kebersihan tempat usaha.

Pada hari biasa, Jonas mampu menjual sekitar 50-60 porsi nasi lemak. Sementara saat akhir pekan, jumlah penjualannya bisa mencapai 100 porsi per hari.

Selain biaya operasional yang tinggi, kenaikan harga bahan baku juga menjadi tantangan besar. Jonas menyebut harga cabai rawit kini mencapai SGD 12 (Rp 165.000) per kilogram atau dua kali lipat dibanding sebelumnya.

Jual Nasi Lemak Rp 95 Ribu, Pedagang Ini Ternyata Tetap Sulit UntungJual Nasi Lemak Rp 95 Ribu, Pedagang Ini Ternyata Tetap Sulit Untung Foto: Youtube CNA Insider

Karena pendapatannya tidak tetap, Jonas mengaku cukup sulit untuk menabung maupun membeli rumah. Untuk menambah pemasukan, lulusan bisnis manajemen itu juga menerima pesanan katering dan layanan pengantaran makanan.

Associate Professor bidang ekonomi dari Singapore University of Social Sciences, Walter Edgar Theseira, menilai pedagang hawker di Singapura memang berada dalam posisi sulit. Menurutnya, warga Singapura masih berharap makanan di hawker centre tetap terjangkau meski biaya operasional terus meningkat.

"Jika pedagang menjual produk makanan yang lebih premium, tentu harganya akan lebih mahal. Namun, penjual hawker kesulitan menaikkan harga karena makanan seperti nasi lemak dianggap makanan umum yang harus tetap murah," pungkas Theseira.


(sob/adr)