Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla mengenang perjalanan hidup serta awal mula dirinya terjun ke dunia politik tanpa perencanaan matang saat merayakan ulang tahun ke-84 di kediamannya, Jalan Brawijaya IV, Jakarta Selatan, Sabtu (16/5/2026).
Langkah mantan wakil presiden yang akrab disapa JK tersebut menuju pemerintahan luar negeri bermula secara mendadak, dilansir dari Detikcom. Momentum itu terjadi ketika Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur memintanya untuk bergabung dalam kabinet sebagai perwakilan dari wilayah timur Indonesia.
Saat itu, JK sedang mengemban amanat sebagai anggota MPR dari utusan daerah ketika pembahasan mengenai keterwakilan tokoh Indonesia timur muncul dalam penyusunan kabinet baru.
"Waktu tiba-tiba Pak Gus Dur usul kabinet, terus, 'Siapa yang mewakili Indonesia timur?' Cuma satu yang bisa, cuma saya. Masuklah saya kabinet," kata Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI.
Karier politiknya kemudian terus menanjak hingga berhasil menduduki sejumlah posisi menteri strategis dan dua kali menjabat sebagai wakil presiden mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono serta Joko Widodo.
"Jadi anggota DPR dulu, jadi menteri, kemudian jadi Menko Kesra, wakil presiden, ke presiden gagal," ucap Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI.
Mantan Ketua Umum Partai Golkar tersebut membagi fase kehidupannya menjadi tiga bagian besar, yakni masa pendidikan, masa mengelola bisnis keluarga selama 35 tahun, dan fase pengabdian di pemerintahan.
"Hidup saya itu terbagi tiga bagian. Sepertiga, sepertiga. Dari kecil sampai 25 tahun, sekolahan. Sambil aktif bermacam-macamlah kalau dihitung jumlahnya kegiatan itu. Segala macam organisasi dijalani, 25 tahun," ungkap Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI.
Selepas kuliah, JK sebenarnya sempat diminta untuk menjadi Kepala Bulog karena penulisan skripsi ekonominya yang berfokus pada komoditas beras mendapat perhatian khusus dari para pejabat daerah.
"Waktu tamat fakultas ekonomi, skripsi saya tentang beras. Jadi Kepala Bulog-nya mau diganti, minta saya gantikan. Karena 'Pak Jusuf yang tahu betul tentang itu'," ujarnya Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI.
Peluang menjadi Kepala Bulog tersebut urung diambil karena sang ayah meminta JK untuk tetap memprioritaskan keberlangsungan perusahaan keluarga.
"Tapi begitu tanya bapak saya, cuma satu jawabannya, 'Jadi? Siapa lanjutkan perusahaan?' Waduh," kata Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI.
Setelah penolakan tersebut, ia memilih fokus berbisnis dan merintis karier dari posisi manajer bawah hingga akhirnya dipercaya menjadi direktur utama.
"Bisnis juga bertahap. Begitu manajer, bapak saya bilang, 'Kau manajer,' walaupun cuma ada dua orang anak buah saya. Lama-lama jadi direktur, bapak saya agak mundur. Kemudian dirut," tutur Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI.
Kini pada usia senja, JK memfokuskan sisa energinya untuk mengurus empat bidang utama yang diistilahkannya sebagai gerakan 'A-B-S-D', yakni agama, bisnis, sosial, dan perdamaian.
"Sekarang, saya billing saya hanya urus A-B-S-D. Urus agama, sebagai Ketua Dewan Masjid. Urus bisnis, lihat anak saya sini yang pegang, saya lihat-lihat saja," katanya Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI.
Dalam bidang perdamaian, Ketua Umum Palang Merah Indonesia ini memaparkan bahwa dirinya tengah memfasilitasi proses rekonsiliasi untuk dua negara yang sedang berkonflik.
"Kami sekarang masih urus ada dua negara untuk bagaimana dia damai, tapi prinsip saya perdamaian itu tidak boleh diumbar. Tidak boleh dipublikasikan sebelum mencapai 80 persen," jelas Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI.
Ia menolak membeberkan identitas kedua negara tersebut demi menjaga kerahasiaan proses diplomasi, berkaca pada kesuksesan perundingan damai Aceh di Helsinki masa lalu.
"Dulu Aceh begitu, tidak ada yang tahu bahwa ada pertemuan di Helsinki sampai selesai," imbuh Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI.
Menutup ceritanya, JK memanjatkan rasa syukur atas nikmat kesehatan yang masih diterimanya sekaligus merefleksikan pentingnya meningkatkan amalan ibadah di usia yang semakin berlanjut.
"Boleh mengatakan umur panjang, boleh mengatakan, 'Alhamdulillah umur Bapak tinggal sedikit.' Artinya di situ ibadah penting karena tinggal sedikit," imbuh Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI.
56 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·