Kapasitas Data Center Indonesia Diproyeksikan Melonjak hingga 1,6 GW

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Akselerasi masif sedang terjadi pada industri pusat data atau data center di Indonesia. Kapasitas data center nasional yang beroperasi sampai pertengahan tahun ini dilaporkan telah menembus angka 637 Megawatt (MW), seperti dikutip dari Medcom.

Indonesia Data Center Provider Association (IDPRO) memproyeksikan angka penyediaan daya tersebut akan meningkat tajam hingga menyentuh 1,6 Gigawatt (GW) pada akhir tahun. Lonjakan ini dipicu oleh ekspansi ekonomi digital yang eksponensial serta masifnya implementasi teknologi Kecerdasan Buatan (AI) di dalam negeri.

Ketua Umum IDPRO Hendra Suryakusuma menjelaskan bahwa pertumbuhan ini menjadi lompatan besar sejak asosiasi didirikan pada 2016 yang saat itu hanya mengoperasikan daya sekitar 32 MW dari 5 anggota. Kini, jumlah anggota aktif berkembang menjadi 21 penyedia data center yang melayani kebutuhan skala kecil hingga perusahaan raksasa (hyperscaler) seperti Google, Amazon, Alibaba, dan Tencent.

Indonesia kini menjadi daya tarik baru bagi investor global karena stabilitas geopolitik kawasan yang dinilai relatif aman dan damai dibandingkan wilayah lain seperti Timur Tengah. Salah satu buktinya adalah langkah calon anggota IDPRO, DAMAC Digital dari Dubai, yang menaikkan komitmen investasinya secara fantastis dari 100 MW menjadi 1 GW.

Potensi pasar Indonesia secara makro juga sangat besar dengan populasi mencapai 286 juta jiwa, di mana lebih dari 80 persen atau sekitar 230 juta penduduk telah aktif menggunakan internet. Nilai ekonomi digital (Gross Merchandise Value/GMV) internet Indonesia tercatat mencapai 135 miliar dolar pada tahun lalu, dan diprediksi meroket hingga 350 billion dolar pada tahun 2030, menjadikannya yang terbesar di Asia Tenggara.

Tantangan Regulasi dan Beban Pajak

Meskipun pasar tumbuh subur, pelaku industri data center di Indonesia masih menghadapi kendala regulasi dan birokrasi yang rumit. IDPRO menyoroti adanya ketimpangan jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia (Johor Bahru) dan Thailand.

Para pelaku usaha di Indonesia harus melalui alur birokrasi yang melibatkan minimal sembilan institusi berbeda. Pengurusan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) di dalam kota Jakarta contohnya, memerlukan waktu sekitar 7 hingga 9 bulan akibat detail desain teknis yang sangat kompleks.

Selain itu, belum adanya insentif fiskal untuk mendatangkan server AI membuat pelaku industri harus menanggung beban pajak dan bea masuk hingga 23 persen. Kondisi ini kontras dengan Malaysia yang memiliki lembaga satu pintu seperti MDEC atau Thailand dengan OSOS yang memberikan pembebasan pajak dan kemudahan investasi.

Dampak dari perbedaan regulasi ini sempat dirasakan pada pelonggaran aturan melalui PP No. 71 Tahun 2019. Akibat data privat diperbolehkan disimpan di luar negeri, data center untuk 120 juta pengguna TikTok di Indonesia justru ditempatkan di Johor Bahru, Malaysia.

Evolusi Infrastruktur dan Teknologi Pendingin

Kehadiran era AI turut mengubah arsitektur fisik pusat data secara drastis. Jika pada periode 2012–2017 sebuah rak server rata-rata hanya membutuhkan daya 3 kW, kini server AI modern yang menggunakan GPU padat (seperti NVIDIA GB200) memerlukan daya hingga 120 kW per rak. Bahkan, server generasi terbaru yang keluar pada kuartal ketiga tahun ini diprediksi membutuhkan pasokan daya mencapai 600 kW per rak.

Lonjakan kepadatan daya (density) ini memicu panas ekstrem, sehingga sistem pendingin udara konvensional (room cooling) tidak lagi efektif. Menjawab tantangan ini, Ariffa Hasanah, System and Solution Architect Engineer dari Schneider Electric Indonesia, menjelaskan bahwa industri global kini beralih ke teknologi pendingin cair (liquid cooling).

"Schneider Electric telah bekerja sama secara resmi dengan NVIDIA dalam merancang arsitektur fisik data center modern. Kami baru saja mengakuisisi Motive Air pada Februari lalu, yang merupakan penyedia sistem pendingin untuk 6 dari 10 superkomputer tercepat di dunia."

"Produk terbaru kami mampu mengalirkan cairan pendingin langsung ke atas perangkat chipset (direct-to-chip) dengan kapasitas pendinginan unit tunggal mencapai 2,3 Megawatt," ujar Ellya Cen, Business VP Data Center, Schneider Electric Indonesia.

Krisis Tenaga Ahli dan Pasokan Energi Hijau

Akselerasi teknologi yang terlalu cepat ini sayangnya belum diimbangi oleh ketersediaan sumber daya manusia yang memadai di dalam negeri. Industri data center di Indonesia saat ini tengah mengalami krisis tenaga ahli atau talent war, di mana fenomena saling membajak karyawan bersertifikat marak terjadi antar-perusahaan.

Mengantisipasi serbuan tenaga kerja asing dari India dan Bangladesh, perusahaan lokal kini mulai aktif bekerja sama dengan universitas ternama seperti Universitas Indonesia (UI) dan ITB untuk menyusun kurikulum khusus data center pada jurusan Teknik Elektro dan Teknik Mesin.

Tantangan besar lainnya adalah ketersediaan energi bersih dan air. Mengingat liquid cooling mengonsumsi jutaan liter air bersih per bulan, pemanfaatan air harus dikelola dengan bijak agar tidak merusak lingkungan sekitar.

Pihak IDPRO terus mendorong PLN untuk meningkatkan bauran energi terbarukan. PLN sendiri telah berkomitmen bahwa 76 persen dari pasokan energi baru dalam lima tahun ke depan akan bersumber dari pasokan hijau (green supply) demi mewujudkan operasional data center yang berkelanjutan di Indonesia.