Insiden kartu merah yang dialami bek muda Barcelona, Pau Cubarsi, saat menghadapi Atletico Madrid pada leg pertama perempat final Liga Champions 2025-2026, Selasa (8/4/2026), memicu gelombang dukungan dari para legenda klub. Keputusan wasit untuk mengusir Cubarsi di menit-menit akhir babak pertama, setelah bentrokan dengan Giuliano Simeone, menimbulkan kekalahan 0-2 bagi El Barca.
Peristiwa krusial di ajang Liga Champions ini tidak hanya mengubah jalannya pertandingan bagi skuad Hansi Flick, tetapi juga memaksa Barcelona bermain dengan sepuluh pemain sepanjang sisa laga. Kekalahan tersebut menjadi sorotan, namun Cubarsi menunjukkan kedewasaan dengan mengambil tanggung jawab penuh atas hasil tersebut.
Melalui unggahan di media sosial pribadinya, Cubarsi menyampaikan permohonan maaf kepada rekan-rekan setim dan para suporter yang hadir di stadion. Sikap ksatria ini mendapat respons positif dari internal tim, termasuk dukungan moral dari Dani Olmo, Ronald Araujo, dan Marc Bernal.
Dukungan paling signifikan datang dari dua ikon pertahanan legendaris Barcelona, Carles Puyol dan Gerard Pique. Keduanya dikenal memahami betul tekanan serta ekspektasi yang datang saat mengenakan seragam kebesaran klub Catalan.
Gerard Pique, yang pernah merasakan pasang surut karier di tim utama, secara khusus memberikan pesan motivasi menyentuh untuk juniornya. “Tetaplah tegakkan kepala, kawan. Kamu akan menghancurkan mereka dalam kebangkitanmu,” tulis Pique, menegaskan keyakinan bahwa insiden tersebut hanyalah rintangan kecil dalam perjalanan karier panjang Cubarsi.
Di sisi lain, Giuliano Simeone dari Atletico Madrid, yang terlibat dalam insiden tersebut, memberikan perspektifnya mengenai kronologi. Ia mengaku merasakan benturan saat berhadapan dengan Cubarsi. “Julian menendang bola ke punggung saya. Saya tahu dia adalah pemain terakhir,” ujar Giuliano, seperti dikutip dari Barca Universal.
Giuliano menambahkan, “Saya belum menonton ulang kejadian itu, tetapi saya menghalangi jalannya dan melaju ke gawang, dan saya merasakan benturan itu.” Ia juga mengungkapkan perubahan sanksi dari wasit. “Awalnya wasit menunjukkan kartu kuning, tetapi kemudian, setelah berkonsultasi dengan VAR, dia menunjukkan kartu merah,” simpulnya.
Pelatih Barcelona, Hansi Flick, tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya terhadap kinerja wasit yang dinilai bias. Juru taktik asal Jerman itu menyoroti beberapa keputusan teknis yang merugikan timnya, termasuk insiden di kotak penalti lawan yang tidak ditinjau oleh VAR.
“VAR sangat berpihak pada Atlético… dia orang Jerman, terima kasih Jerman,” kata Flick dengan nada sarkastis. “Saya tidak tahu mengapa VAR tidak turun tangan. Saya pikir ini tidak bisa dipercaya. Kita semua melakukan kesalahan, tetapi untuk apa VAR? Saya tidak mengerti. Seharusnya itu penalti, kartu kuning kedua, dan kartu merah. Ini persisnya tidak boleh terjadi,” pungkasnya.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·